Pukul enam pagi, langit di atas Delanggu belum sepenuhnya biru. Warna abu-abu masih menggantung rendah di atas puncak Gunung Merapi. Namun, dari arah kompleks Suikerfabriek Delanggoe, bunyi besi beradu sudah terdengar membelah hening.
Adrian de Boer melangkah keluar dari teras rumah dinasnya. Ia mengenakan kemeja katun putih, celana linen tebal, dan sepatu boot kulit yang sudah dipoles mengilap. Di tangan kirinya, ia menggenggam tabung gambar dari kulit. Di tangan kanannya, sebuah buku catatan berkuarto kecil dengan sampul hitam tebal. Topi pith helmet milik Adrian menahan sinar matahari pagi yang mulai terasa menyengat di tengkuknya.
Pabrik itu berjarak kurang dari dua ratus meter. Untuk sampai ke sana, Adrian harus melintasi jalan tanah yang dibatasi selokan irigasi. Air selokan mengalir tenang, membawa warna cokelat keruh dan sampah daun tebu yang membusuk. Di tepi jalan, beberapa orang perempuan Jawa bersanggul berdiri mengelilingi bakul penjual nasi. Mereka berbicara dengan suara pelan. Begitu Adrian melintas, percakapan itu mendadak terhenti.
Tatapan mata mereka menyapu sosok Adrian. Tidak ada kebencian di mata itu, tetapi tidak ada pula keramahan. Hanya ada jarak yang membeku. Adrian menyentuh tepi topinya sedikit, sebuah gestur sopan yang tidak dibalas oleh siapa pun. Mereka hanya menundukkan kepala sampai langkah matangnya berlalu.
Ia memasuki gerbang utama kompleks pabrik. Papan kayu bertuliskan Nieuwbouw Suikerfabriek Delanggoe terpasang di tiang pancang. Suasana di area proyek nieuwbouw itu riuh oleh bunyi perkakas. Ratusan kuli bumiputra bergerak di antara tiang-tiang fondasi batu kali. Ada yang memikul dua keranjang batu belah menggunakan bambu di pundak mereka yang bertelanjang, ada yang mengaduk semen di dalam bak-bak kayu besar, dan ada pula yang memanjat perancah bambu (steiger) yang menjulang mengelilingi dinding cerobong bata merah.
Seorang pria Eropa berpakaian drill abu-abu dengan kumis tebal melangkah menghampirinya dari arah werkplaats, bengkel kerja sementara dari seng gelombang.
“Meneer de Boer?” tanyanya dalam bahasa Belanda yang tegas.
“Ya. Adrian de Boer,” jawab Adrian sambil menjulurkan tangan.
“Jan Jansen. Saya opzichter untuk sipil dan konstruksi tiang di sini.” Pria itu menyapu keringat di atas dahi dengan lengan bajunya. Tangannya yang kasar dan penuh noda gemuk menjabat tangan Adrian rapat-rapat. “Kami sudah menunggu kedatanganmu sejak minggu lalu. Mesin-mesin uap dari Stork & Co. sudah tiba di stasiun kemarin sore. Sebagian peti kayu sudah diseret ke sini memakai roda besi dan sapi pendorong.”
Jansen menunjuk ke arah pelataran tengah. Di sana, belasan peti kayu berukuran raksasa tergeletak di atas tanah tegalan yang dikeraskan. Tulisan Stork & Co. – Hengelo dicetak menggunakan cat hitam tebal di samping cap logo mahkota Kerajaan Belanda.
“Apakah fondasinya sudah siap?” tanya Adrian. Matanya tertuju pada cerobong asap utama yang belum jadi.
“Untuk stoomketel bagian dasar betonnya sudah kering sejak tiga hari lalu,” jawab Jansen sambil melangkah mengajak Adrian mendekat. “Tapi untuk kedudukan silinder pemerah tebu, kami masih menunggu petunjuk rancanganmu. Mandor-mandor kita di sini tidak bisa membaca denah teknis dari Delft.”
Adrian mengangguk. Ia berjalan mengitari peti-peti kayu itu. Bau kayu pinus mentah dari peti bercampur rapat dengan aroma gemuk pelumas dan bau karatan dari potongan besi.
Inilah tempatnya. Dunia yang ia pahami. Di tengah keramaian kuli yang bekerja dengan telanjang kaki dan kain sarung terikat di pinggang, peti-peti mesin dari Hengelo ini terasa seperti potongan tanah airnya yang terdampar di tengah ladang tebu Jawa.
“Saya ingin melihat fondasi silinder gilingan sekarang,” kata Adrian.
Mereka berjalan masuk ke bawah naungan rangka atap pabrik yang baru separuh tertutup genteng. Konstruksi baja yang dicat hitam menopang langit-langit bangunan utama. Di bawahnya, sebuah lubang besar telah digali. Dinding-dinding lubang itu diperkuat dengan pasangan batu bata tebal dan lempengan semen.
Beberapa buruh lokal sedang berjongkok di dasar lubang, membersihkan sisa-sisa debu semen menggunakan sapu lidi. Salah satu dari mereka, seorang pemuda berkulit gelap dengan bekas luka bakar di lengan kirinya, menengadah saat bayangan Adrian menutupi lubang itu.
Mata pemuda itu menatap tepat ke arah sepatu boot Adrian yang bersih dari debu. Ada kelelahan yang dalam di garis matanya. Adrian membuka tabung kulitnya. Ia mengeluarkan lembaran kertas kalkir berisi denah suikerrietmolen. Kertas itu berbunyi gemerisik saat ia menggelarnya di atas sebuah meja kayu kasar tempat menaruh perkakas.
“Di sini,” kata Adrian sambil menunjuk sebuah titik acuan pada gambar. Jarinya yang bersih menelusuri garis tinta Cina hitam. “Poros utama roda gigi harus tegak lurus dengan saluran tebu masuk. Toleransinya tidak boleh lebih dari dua milimeter. Jika posisinya miring, tekanan roda giling tidak akan merata. Nira tidak akan keluar maksimal, dan as mesin akan patah dalam dua minggu.”
Jansen membungkuk, memperhatikan gambar itu sambil memicingkan mata.
“Dua milimeter?” Jansen tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering di tengah gemuruh ayunan palu kuli. “Meneer de Boer, ini Hindia. Tukang-tukang kayu kita di sini mengukur jarak dengan lebar jari tangan mereka, bukan mikrometer. Kau harus mengawasi mereka sendiri jika menginginkan ketepatan seperti itu.”
Adrian tidak tersenyum. “Mesin tidak mengenal kompromi iklim, Meneer Jansen. Mesin hanya bekerja jika hukum fisika dipatuhi. Jika mereka tidak bisa mengukur dengan benar, saya yang akan memasang garis ukurnya.”
Jansen menatap Adrian beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Kau persis seperti administratur kita yang lama. Kaku dan percaya bahwa besi bisa menaklukkan tanah ini.”
Adrian tidak menjawab kalimat itu. Ia mengambil mistar kuningan dan benang sipat bercat merah dari tasnya. Ia melangkah turun ke dalam lubang fondasi tanpa ragu. Sepatu kulitnya yang mengilap kini menginjak debu semen yang basah dan kotor.
Para buruh yang berada di dalam lubang bergeser pelan, memberi ruang bagi pria Eropa itu. Mereka berdiri merapat ke dinding semen, menundukkan kepala, dan memperhatikan setiap gerak-gerik Adrian.
Adrian berlutut di atas lantai beton yang dingin. Ia menancapkan paku kecil, menarik benang sipat, dan mengukurnya dengan ketelitian seorang juru ukur Delft. Tangannya yang putih tidak ragu menyentuh sudut-sudut semen yang kasar.
Saat ia sedang mengukur sudut siku-siku fondasi, aroma manis yang pekat tiba-tiba berembus masuk terbawa angin dari luar. Bukan bau tebu busuk seperti yang ada di selokan depan rumah dinasnya, melainkan bau nira tebu segar yang sedang dimasak di pondok-pondok pembuatan gula jawa tradisional di pinggir desa.
Aroma itu asing, berat, dan terasa menempel di tenggorokan. Adrian berhenti sejenak. Tangannya yang memegang benang sipat bertahan di udara. Dari dasar lubang fondasi yang dalam itu, ia mendongak ke atas. Melalui celah rangka atap baja yang belum tertutup, ia melihat segumpal awan putih melintas pelan di atas langit Delanggu.
Di atas sana, seekor burung elang terbang berputar tanpa mengeluarkan suara. Di tempat ini, di tanah yang terik dan penuh bau tanah basah ini, ia merasa sangat kecil. Kerajaan industri gula yang sedang dibangun oleh bangsanya di atas tanah raja-raja Jawa ini berdiri di atas ribuan pundak manusia yang tak pernah bicara dengannya. Mereka ada di sekelilingnya: memegang palu, memikul batu, mengaduk semen, namun mereka tetap menjadi sosok-sosok yang tak terjangkau.
Jangan terlalu lama berada di Hindia. Suara bisikan dari surat Elisabeth kembali terngiang di benaknya, menggebu bersama ketukan palu buruh yang menghantam tiang pancang.
Adrian menarik napas panjang. Ia menekankan jarinya pada benang sipat merah, memastikannya menegang lurus sempurna di atas beton kotor itu.
“Sipatkan benang ini ke tiang sebelah timur,” kata Adrian kepada pemuda lokal berbekas luka bakar yang berdiri di dekatnya. Ia menunjuk benang itu, lalu menyodorkan ujungnya.
Pemuda itu ragu sejenak. Tangannya yang kasar dan penuh debu semen terulur pelan, mengambil benang dari jemari Adrian. Ujung jari mereka sempat bersentuhan sesaat, dingin dan hangat yang bertabrakan di dalam lubang fondasi yang pekat. Pemuda itu mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menarik benang itu persis seperti yang diperintahkan.
Adrian berdiri, menyapu debu semen yang menempel di lutut celananya. Mesin Stork & Co. akan segera dipasang di tempat ini. Ia akan memastikan setiap baut terpasang presisi. Hanya dengan cara itulah ia bisa menyelesaikan pekerjaannya, dan hanya dengan cara itulah ia bisa pulang.
____________________
Erna surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten.


0 Komentar