“Diksi dalam karya ilmiah tidak harus menggunakan bahasa puitis. Kecuali kalau ia karya ilmiah sastrawi penulisannya menggunakan teknik sastra.” Aku menjawab sesuai pengetahuanku dari hasil yang pernah aku baca.
Aku harap ia mengerti penjelasanku, dan kutulis contohnya di papan tulis. Mana yang kata puitis dan mana yang tidak, mana yang karya ilmiah dan mana yang karya sastra, aku yakin ia pasti sudah tahu. “Biasanya karya ilmiah itu, isinya mewakili judul yang ditulis seperti berita, beda dengan karya sastra.” Aku sengaja memperpanjangnya sebagai tambahan.
“Tahu novel Laskar Pelangi?” Lelaki itu menganggukkan kepala.
“Pernah membaca novelnya?” Ia menggeleng.
“Kenapa harus membaca Pak, aku kan pernah menonton filmnya langsung.” Ia berkata dengan begitu bangga.
Budaya baca sungguh sulit diterapkan pada mereka. Kesalahannya yang satu ini tidak bisa diampuni, dan harus aku perbaiki sekarang juga.
“Seorang pembaca sastra, sebutlah pembaca novel yang sudah dialihwahanakan jadi sebuah film. Biasanya ia akan mengomentari film itu sendiri. Intinya, kecerdasan seorang pembaca dan penonton itu jauh berbeda.” Aku sedikit risih dan merasa agak kesal dengan caranya menggelegar seperti tadi. Sebelum penjelasanku mengenai diksi selesai dituntaskan, aku ditanya anak itu lagi.
“Bagaimana kalau sebaliknya, seorang penonton film yang diangkat dari novel, baru ia membaca novel itu?”
“Ia tetap menemukan kekurangan sendiri dalam film, dan menemukan kekayaan bahasa dalam teks, termasuk nilai estetis.” Ia mengerjab-erjabkan mata, sambil menggoyang-goyang kepala. Tapi belum tentu ia setuju dengan pendapatku yang tidak bisa dijamin kebenarannya. Itu hanya sebuah opini yang mengalir dari pemikiranku yang datang secara tiba-tiba. Bisa jadi hatinya yang bersuara menolak. Dan aku terima penolaknnya dengan lapang dada.
“Kalau sudah nonton film yang diangkat dari novel, jangan lupa iringi dengan membaca novelnya juga.” Seolah aku membenarkan sikapnya.
Biar saja saat ini ia yang siap melawan pendapatku merasa menang dalam kegemilangannya, dan tentu ia gembira, paling tidak dalam hati. Sebagai seorang guru, aku harus bisa meluruskan yang menurutku bengkok dalam diri setiap siswa. Aku harus berbuat sesuatu dengan perlahan-lahan. Apa lagi ketika menghadapi murid seorang Ahmad. Aku harus mencicil ilmu pengetahuanku yang secuil memasukkan dalam benaknya. Ia sendiri nanti yang berkelana untuk mencari tambahannya.
“Laskar Pelangi, adalah judul novel. Tapi isi cerita dalam novel, tidak menceritakan tentang pelangi. Ayat-ayat cinta juga judul novel, dan isi cerita, tidak membahas tentang ayat-ayat, walaupun ada juga membahas tentang cinta. Bumi Manusia juga judul novel, isinya bukan bercerita tentang bumi. Pendek kata, hampir keseluruhan judul novel atau buku yang berbau sastra menggunakan bahasa yang tepat atau diksi yang tepat, tapi tidak selalu mewakili isi cerita. Dia hanya simbolisasasi saja.”
“Penjelasan yang mudah dipahami Pak. Berarti dapat aku simpulkan dari penjelasan tadi, diksi dalam karya ilmiah berbeda dengan diksi dalam karya sastra. Kalau diksi dalam karya sastra selain bahasa puitis, belum tentu diksinya yang tepat mewakili isi cerita, seperti judul misalnya. Sebaliknya dalam karya ilmiah.”
“Tepat sekali,” jawabku mengacungkan jempol membesarkan jiwanya.
Ia bergerak sombong setelah aku membalik kertas memberi nilai. Kesombongannya yang dapat dimaklumi menarik perhatian siswa lain, membuatnya tidak mau kalah. Rasa senang semakin terbit dalam hatiku. Menurutku anak itu tidak begitu menyukai sastra, tapi ia bertanya di akhir waktu yang tak kalah menariknya.
“Di mana lebih sulit menulis karya sastra daripada menulis karya ilmiah, Pak?”
Aku menjawabnya tuntas. Aku bukan saja begairah hari ini dan penuh semangat. Aku ingin melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan kesukaannya. Rasanya aku sebagai seorang guru ingin mengulurkan tangan, sambil merundukkan kepala mengucapkan ribuan terimakasih pada Ahmad yang telah menghidupkan diskusi ini dengan kesombongannya. Tapi tak mungkin kulakukan di hadapan siswa-siswaku memujinya berlebihan, takut mereka salah paham, seolah aku pilih kasih yang bisa menimbulkan rasa cemburu pada hati mereka. Dugaanku, Ahmad juga biasa berbuat sombong yang baik seperti ini pada guru lain. Dan aku harap guru lain bisa memahami kesombongan yang dimiliki seorang murid terpelajar. Aku dapat maklumi perbuatannya yang masih duduk di bangku SMA. Darah mudanya masih bergelora. Suatu saat nanti aku yakin ia bisa menghapus kesombangan itu sendiri dengan perbuatannya yang rendah hati. Apa bedanya ia dengan diriku. Waktu aku menduduki bangku kelas VI di pesantren, setingkat dengan kelas III SMA di sekolah umum. Aku juga merasa sombong, karena banyak membaca kitab-kitab fikih dari kalangan ulama yang bermazhab Safii. Aku merasa pendapatkulah paling benar. Akhirnya setelah umur bertambah dan semakin benyak belajar, aku semakin mengerti arti perbedaan dan toleransi.
Aku memujinya sekadar saja, sambil membayangkan kalau seandainya Arsen ada di sini, mungkin kelas semakin hidup. Walaupun ia menguap lebar setelah ditegur keras, paling tidak ia mendengar diskusi yang menggigit ini, dan akhirnya ia terselimuti untuk ikut serius, dan melempar pertanyaan yang lebih sulit. Kesimpulan terakhir ia mencintai sastra. Tapi dia ada di mana? Kenapa ia tidak hadir hari ini? Aku belum dapat informasi tentang dia. Mengenai absen siswa, selalu aku absen setelah memberikan materi. Wajah Arsen melayang-layang di luar kelas.
____________________
Depri Ajopan. Penulis dan guru asal Pasaman Barat (Sumbar) Sekarang tinggal di Rokan Hulu, Riau.


0 Komentar