“Benar kau tidak mau minum. Ngak enaklah aku, masa aku minum sendiri.” Aku tetap memilih geleng kepala. Kalau dengan caraku seperti ini ia tersinggung, aku senang. Setiap aku duduk di ruangannya jarang sekali ditawari minum, walaupun sekadar basa-basi. Aku tahu bukan karena ia pelit. Tapi karena ia bersiteru hampir setiap hari denganku. Aku melihat ia mengaduk-aduk kopi susu pesanannya yang baru datang di depanku. Asabnya mengepul terbang diseret angin menusuk hidungku, harumnya begitu menggoda. Seandainya ia membujukku lagi untuk menerima tawarannya, aku tetap menolak, dan ia tidak melakukan itu.    

“Aku lihat beberapa hari ini semangatmu mengajar jauh menurun ustaz.” Ia mengaduk-aduk lagi minumannya dengan sendok kecil. Suaranya yang berdenting mengusik pikiranku yang kacau.

“To the point saja Pak. Kalau pekerjaanku tidak beres, aku siap menanggung risikonya, termasuk dipecat.” Aku terus berpikir. Untuk saat ini memilih untuk mengundurkan diri mungkin sudah jalan terbaik untukku. Aku tidak mengerti kenapa cara ia menghadapiku dingin seperti ini, tidak seperti hari-hari biasa, selalu ada api yang membara di wajahnya. Aku sendiri yang terpaksa menahan emosi. Apa ia takut aku lengser atau melengserkan diri dari sekolah ini. Apa ia begitu membutuhkan aku. Aku senang dugaan seperti ini lahir dalam jiwaku yang kerdil. Aku merasa ia menjadi seekor kucing yang kelaparan membuntutiku yang membawa sepotong daging. Kalau benar dugaanku, berarti aku mengetahui rahasianya yang tersembunyi. Aku senang sekali ia telah menunjukkan satu gerak yang tampak, aku begitu berarti baginya. Tanpa kehadiranku yang diamanahkan sebagai keamanan, mungkin ia akan ketar-ketir menghadapi siswa. Kerjaannya selama ini hanya memerintah dan cuma memerintah. Dan di mataku ia tidak pernah becus menangani sesuatu.

“Kau memang seorang guru yang terpelajar. Kau memperjuangkan anak-anak di sekolah ini. Caramu yang propesional membuatku harus memujimu. Kau memang hebat Asnul.” Aku tak tahu mimpi apa ia semalam. Kenapa ia membesarkan hatiku di saat aku ingin memilih lengser dari sekolah ini.    

     “Untuk kebaikan sekolah ini aku harap kita harus bisa bekerjasama lebih serius lagi.” Itu lagu lama yang sering diutarakannya padaku, namun pelaksanaannya jalan di tempat. Setelah aku menganggukkan kepala ia takpernah menghargai aku lagi. Kerja kerasku selama ini dipandang sebelah mata. Retorikanya ketika bicara luar biasa, realisasinya belum pernah aku temukan di lapangan. Bukankah selama ini ia menganggapku seperti musuh bebuyutan. Kehadiranku membuatnya pusing tujuh keliling. Dia bisa berbuat sekehendak hati pada guru-guru lain tanpa ada yang menantang. Begitu aku hadir di hadapan kepala sekolah terkutuk itu, ia banyak menemukan perlawanan. Tapi hal yang membuatku heran, sampai saat ini belum terjawab. Selama ini pendapatnya yang menurutku kekanak-kanakan, sering kutolak mentah-mentah. Tapi kenapa ia masih juga mengangkatku sebagai wakil kepala bidang akademik di sekolah ini? Bukankah jabatanku, walaupun tidak setingkat dengan kepala sekolah, cuma beberapa jengkal di bawahnya. Seandainya ada wakil kepala sekolah di sini aku lah yang berhak jadi wakil. Apabila sewaktu-waktu kepala sekolah bermasalah, memiliki kasus yang bisa dijadikan alasan memberhentikannya, aku lah yang berhak  naik ke atas singgasananya setelah ia lengser.

“Akhir-akhir ini, mungkin kau lagi ada masalah. Cerita saja siapa tahu aku bisa membantumu.” Kebaikan apa pun yang disodorkannya untukku, aku tidak tertarik dan tak memerlukannya. Mungkin itu hanya kebaikan sesaat menjebakku. Di belakang nanti akan menyusul kejahatan baru bertubi-tubi. Bagaimana pun ia memperlakukanku, aku tetap waspada dan memilih lebih berhati-hati. Aku tidak mau tertunduk pada kelakuannya yang tiba-tiba berubah dingin terhadapku. 

“Masalah asmara juga tidak masalah. Cerita saja, siapa tahu kau sudah ada niat menikah. Atau jangan-jangan  kau ada yang suka sama ustazah yang mengajar di sini. Biar aku yang turun tangan merayunya untukmu.” Ia semakin kurang ajar. Aku muak melihatnya. Apa ia lupa perseteruan yang terjadi selama ini antara aku dan dia. Atau sengaja ia lupakan. Ia yang sok tahu sudah terlalu dalam ingin menelusuri jejak langkahku. Aku semakin tidak menyukai caranya seperti itu. Apa perlu aku harus berdebat sengit lagi dengan kempret itu di sini. Aku memanggilnya dalam hati dengan sebutan kasar seperti itu. Bagiku dia seorang bajingan tengik yang tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa merubah apa-apa, tapi ia merasa seolah telah menguasai segala-galanya. Kehidupannya menoton dan lurus-lurus saja, datar seperti jalan tak beraspal di kampungku.

“Jangan-jangan kau suka ustazah Silvia.” Mulutnya keterlaluan. Dia pikir aku lelaki gatal, yang terseret pada gadis yang cuma cantik, tapi belum tentu punya kepribadian. Aku tidak bermaksud menuduh Silvia tidak punya kepribadian. Aku hanya yakin ia menumbukkan pandang pada gadis itu karena memiliki kecantikan semata yang membuat orang-orang terpana. Cuma itu yang ia lihat. Mengenai kepribadiannya ia tak mau tahu. Ia termasuk golongan lelaki pengagum kecantikan. Begitu banyak para lelaki gara-gara tertunduk pada sebuah kecantikan membuat ia jadi seekor kerbau yang  ditusuk hidungnya di depan gadis itu, kemudian ditarik-tarik melewati kubangan lumpur dan disuruh membabat rerumputan seribu hektar setiap hari. Tentu saja kepala sekolah itu tidak tahu bagaimana kisah asmaraku yang hangat dibumbui dengan kesedihan. Aku belum bisa berbuat adil dengan luka lara yang menempel ini. Aku tetap memandang perempuan itu samasaja, tidak ada yang memiliki ketulusan seutuh yang ku punyai. Jika pun ada aku belum menemukannya, dan mungkin tidak akan pernah menyentuhnya. 

____________________   

Depri Ajopan. Penulis dan guru asal Pasaman Barat (Sumbar) Sekarang tinggal di Rokan Hulu, Riau.