Ketika sang penulis pribumi—yang rumah petaknya di kawasan Weltevreden (Batavia) dibersihkan oleh Mbok Pinem setiap hari Selasa—membukakan pintu untuknya pagi itu, ia menanyakan kabar cucu lelaki Mbok Pinem. Mbok Pinem berdiri di atas keset anyaman rotan di dalam lorong rumah yang temaram, dan ia mengulurkan tangannya untuk membantu sang tuan rumah menutup pintu sebelum menjawab. “Kami baru saja memakamkan ‘ndoro cilik kemarin, Den,” jawabnya pelan.

“Oh, ya ampun! Saya turut berduka mendengarnya,” kata sang penulis muda dengan nada terkejut. Ia sedang berada di tengah-tengah sarapannya, menikmati sepiring nasi liwet hangat dengan taburan suwiran ayam. Ia mengenakan sarung tenun yang sudah agak kusut dan memegang selembar surat kabar Malayische Melajoe di salah satu tangannya. Namun ia merasa canggung. Ia tentu tidak bisa begitu saja kembali ke ruang duduk yang nyaman tanpa mengatakan sesuatu—sesuatu yang lebih bermakna. Kemudian, karena menganggap masyarakat jelata begitu menghormati tradisi slametan dan pemakaman, ia berkata dengan ramah, “Pemakamannya berjalan lancar?”

Mbok Pinem tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan. Wajahnya tampak begitu terpukul. Ia lantas berjalan menuju dapur, menggenggam bakul purun tuanya yang berisi kain pel, kemocphi, serta sepasang alas kaki dari serabut.

Sang penulis muda mengangkat alisnya dan kembali menikmati sarapannya. “Terlalu bersedih, kurasa,” ucapnya setengah bersuara sambil menuang teh poci hangat.

Mbok Pinem melepas selendang tudung kepalanya dan menggantungkannya di balik pintu. Ia melepas kebaya bludru usangnya dan menggantungkannya pula. Lalu ia mengenakan kain jarik khusus kerja dan duduk untuk melepas sandal kayunya. Melepas atau mengenakan sandal adalah siksaan baginya, tetapi hal itu sudah menjadi siksaan bertahun-tahun lamanya. Faktanya, ia sudah begitu terbiasa dengan nyeri linu di kakinya sehingga wajahnya sudah mengernyit dan bersiap menghadapi rasa sakit bahkan sebelum ia sempat membuka ikatan tali sandalnya. Setelah itu selesai, ia bersandar sambil menghela napas dan mengusap lututnya perlahan….

“Le! Cung!” Cucu kecilnya berdiri di pangkuannya mengenakan celana pendek dari karung goni halus. Anak itu baru saja masuk usai berlari-lari di halaman kampung.

“Lihat, pakaianmu jadi kotor begini, Nduk—anak bunder nakal!”

Tetapi bocah itu melingkarkan lengan kecilnya di leher sang nenek dan menempelkan pipinya ke pipi Mbok Pinem.

“Mbah, minta jajan gulali, ya!” rengeknya manja.

“Hus, sana main; Mbah lagi tidak punya uang kepeng.”

“Punya, Mbah punya.”

“Tidak, Mbah tidak punya.”

“Punya, Mbah punya. Minta satu!”

Tangan keriputnya sudah meraba dompet dari lipatan kain batik tua tempat ia menyimpan uang receh logam.

“Lalu, apa balasanmu untuk Mbah?”

Anak itu tertawa kecil malu-malu dan merapatkan tubuhnya. Mbok Pinem merasakan kelopak mata anak itu bergetar di pipinya. “Aku tidak punya apa-apa,” gumamnya….

Wanita tua itu bangkit seketika, menyambar ceret tembaga dari tungku anglo dan membawanya ke dekat gentong air liat. Suara air yang dituangkan ke dalam periuk seakan sedikit meredam kepedihannya. Ia juga mengisi ember kayu dan kendi basuh.

Dibutuhkan satu buku babad penuh untuk mendeskripsikan keadaan dapur tersebut. Selama sepekan penuh, sang penulis muda mengurus keperluannya sendiri. Artinya, ia membuang sisa daun teh ke dalam kendi khusus, dan jika ia kehabisan sendok bersih, ia menyeka seadanya menggunakan serbet kain serbaguna. Sebagaimana ia sering banggakan kepada rekan-rekan pergerakannya, “sistem” hidupnya sangat praktis, dan ia heran mengapa orang-orang begitu repot memikirkan urusan rumah tangga.

“Kau cukup mengotori apa saja yang ada, lalu menyewa ‘biyung’ pembersih seminggu sekali, dan bereslah urusan.”

Hasilnya tampak seperti gudang penyimpanan barang rongsokan. Bahkan lantainya bertabur remah buntil, amplop surat kabar, dan sisa tembakau iris. Namun Mbok Pinem sama sekali tidak menaruh dendam. Ia justru merasa iba pada pemuda terpelajar itu yang hidup seorang diri tanpa sanak saudara di kota besar. Dari jendela kecil berjeruji kayu, terbentang langit Batavia yang tampak kelabu, dihiasi mega-mega tebal bergulung kelam layaknya seduhan teh tubruk pekat.

Sambil menunggu airnya mendidih, Mbok Pinem mulai menyapu lantai. “Ya,” pikirnya dalam hati, seiring ketukan sapu lidi di lantai, “dengan segala pancaroba hidup ini, aku sudah merasakan porsi deritaku. Hidupku sungguh berat.”

Bahkan para tetangga di perkampungan bumiputra pun sering membicarakannya. Seringkali, saat berjalan tertatih-tatih pulang menjinjing bakul ikannya, ia mendengar para tetangga yang berkerumun di perempatan jalan atau duduk di bale-bale berbisik, “Berat betul nasib Mbok Pinem itu.” Dan kenyataan itu begitu pahit hingga ia tidak merasa bangga sedikit pun. Rasanya sama persis seperti status sosialnya yang tinggal di petakan buruh belakang benteng loji. Hidup yang benar-benar berat!

Di usia enam belas tahun, ia merantau dari tanah pedesaan Mataram (Yogyakarta) menuju Batavia sebagai pelayan dapur di sebuah loji kolonial. Ya, ia lahir di tanah Jawa yang sarat wiracarita. Tokoh pewayangan seperti Mahabarata? Tentu ia tahu, orang-orang di desanya sering mendalang. Namun kisah-kisah besar itu terasa jauh dari realitas hidupnya yang keras.

Tidak banyak kenangan masa kecil di desa selain “duduk di dekat tungku perapian tanah pada malam hari sambil melihat kerlip bintang melalui celah genting,” dan “Ibu selalu menyimpan persediaan gula kelapa di amben.” Ada pula pohon kenanga di dekat balai desa yang harumnya semerbak. Namun ingatan itu sangat samar, hanya terlintas sesekali ketika ia terbaring sakit di balai pengobatan kumpeni.

Tempat kerja pertamanya sungguh tempat yang menakutkan. Ia dilarang keluar gerbang. Ia tidak pernah naik ke lantai atas kecuali untuk membersihkan ruang baca majikan Belanda yang kaku. Rumah itu bagaikan penjara bawah tanah bagi kaum pribumi rendahan. Dan kepala juru masaknya adalah seorang nyonya peranakan yang kejam, yang kerap merampas surat-surat dari kampung halaman Mbok Pinem sebelum sempat dibaca, lalu membakarnya di perapian karena dianggap membuat para pelayan menjadi melamun dan lambat bekerja… Dan lipas besar! Percaya atau tidak—sebelum ia menginjakkan kaki di Batavia, ia belum pernah melihat serangga sebesar itu. Di sinilah Mbok Pinem tersenyum kecil pahit, betapa lucunya—tidak pernah melihat lipas sebesar jempol kaki!

Ketika keluarga majikan pertama itu bangkrut dan gulung tikar, ia pindah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kediaman seorang dokter bumiputra terpandang, dan setelah dua tahun bekerja tanpa kenal lelah dari fajar hingga larut malam, ia dinikahkan dengan suaminya. Lelaki itu seorang pembuat roti basah tradisional dan bika.

“Seorang pembuat roti, Mbok Pinem!” kata sang penulis muda suatu waktu, sesekali menghentikan kegiatannya menulis naskah dan mendengarkan secuplik kisah hidup rakyat jelata. “Pasti menyenangkan ya, hidup mendampingi seorang pembuat kue tradisional!”

Mbok Pinem tidak tampak seyakinkan itu.

“Pekerjaan yang bersih dan wangi rempah,” puji sang tuan rumah.

Mbok Pinem tetap bergeming.

“Dan bukankah menyenangkan bisa mencicipi aneka jajanan pasar setiap hari?”

“Ndak juga, Den,” jawab Mbok Pinem pelan, “saya jarang sekali berdiri di depan pincuk jualan. Kami dikaruniai tiga belas anak, dan harus memakamkan tujuh di antaranya. Kalau tidak keluar masuk rumah sakit kolonial, ya dirawat seadanya di bangsal darurat!”

“Begitu ya, Mbok Pinem!” kata sang penulis sambil mengelus dada, lalu kembali menatap pena bulunya.

Ya, tujuh anaknya telah tiada, dan ketika enam anak lainnya masih kecil, suaminya terserang penyakit paru-paru basah akut akibat serbuk arang dan debu terigu pabrik—yang oleh tabib masa itu disebut sebagai penyakit batuk menahun… Suaminya terbaring lemah dengan dada kurus menonjol, dan tabib pribumi menempelkan stetoskop bambu di punggungnya.

“Nah, jika kita periksa rongga dadanya, Mbok Pinem,” ujar sang tabib kala itu, “saluran pernapasannya sudah dipenuhi endapan debu halus. Tarik napas yang kuat, Kawan!” Dan Mbok Pinem tidak pernah bisa melupakan bayangan embusan napas terakhir suaminya yang berat di hadapannya…

Namun betapa luar biasa perjuangan yang ia curahkan untuk merawat keenam anak yang tersisa seorang diri. Sungguh masa-masa yang penuh peluh! Dan malang tak dapat ditolak, tepat ketika anak-anak mulai bersekolah rakyat, adik ipar perempuan suaminya datang menumpang untuk membantu, namun baru dua bulan tinggal, ia terpeleset jatuh dari tangga bambu hingga mengalami cedera punggung permanen. Selama lima tahun berikutnya, Mbok Pinem harus merawat kerabat yang lumpuh itu—yang kerap menangis rewel bagaikan bayi. Belum lagi ujian hidup lainnya: anak gadis sulungnya terpengaruh pergaulan bebas kota kolonial dan pergi bersama lelaki tak bertanggung jawab; dua putranya merantau jauh bekerja sebagai buruh perkebunan di Deli; seorang putra lainnya ditarik kerja paksa (rodi) militer; dan si bungsu Ethel—maaf, Asih—menikah dengan seorang pemuda pengangguran yang meninggal dunia karena radang lambung tepat pada tahun kelahiran cucu tercintanya, si kecil Lennie (yang kemudian ia panggil akrab: Raden Rian). Dan kini, Rian sang cucu kesayangan—telah tiada pula…

Piring-piring gerabah dan cangkir-cangkir seng telah bersih dicuci. Pisau dapur yang menghitam diasah mengkilap menggunakan abu gosok dan potongan kelapa. Meja kayu jati dan kolong amben disikat bersih dari sisa-sisa remah makanan…

Rian bukanlah anak yang dianugerahi fisik kuat—tidak pernah sejak ia dilahirkan. Kulitnya bersih kemerahan dengan rambut ikal halus kecoklatan dan bulu mata lentik bagaikan anak bangsawan. Betapa besar perjuangan Mbok Pinem dan ibunya merawat anak itu dengan panduan resep-resep kesehatan tradisional dari majalah lama! Setiap akhir pekan, Asih membacakan rubrik kesehatan rakyat:

“Pembaca budiman,—Anak saya Rian sempat mengalami demam panas tinggi… Berkat ramuan empon-empon dan tetesan madu murni… berat badannya naik signifikan dalam sebulan…”

Lalu botol tinta cina dan pena bambu disiapkan untuk membalas surat kabar tersebut, berharap ada secercah keajaiban. Namun semua usaha itu sia-sia. Tidak ada yang mampu menahan takdir. Membawa bocah itu berjalan-jalan menghirup udara segar di alun-alun pun tak kunjung memulihkan kesehatannya.

Namun anak itu adalah belahan jiwa neneknya sejak hari pertama ia lahir…

“Cucu siapa ini?” bisik Mbok Pinem sambil menegakkan punggungnya yang letih di dekat jendela dapur yang buram. Dan sebuah suara halus, begitu hangat dan dekat di lubuk hatinya—seakan bersemayam di dalam debar dadanya—menjawab riang, “Aku cucu Mbah Pinem!”

Terdengar ketukan langkah kaki di luar, dan sang penulis muda muncul, mengenakan surjan dan blangkon rapi bersiap hendak keluar rumah.

“Mbok Pinem, saya hendak pergi ke balai diskusi dulu ya.”

“Baik, Den.”

“Oh ya, uang upah mingguan Anda sudah saya selipkan di laci meja tulis.”

“Matur nuwun, Den.”

“Satu lagi, Mbok,” kata sang penulis muda mengingatkan, “kamu tidak membuang sisa bubur kacang hijau saya kemarin, kan?”

“Mboten, Den.”

“Aneh sekali. Saya merasa masih menyimpannya di dalam cangkir.” Ia menggelengkan kepala seraya berkata setengah bersuara, “Lain kali, tolong beri tahu saya kalau kamu hendak membereskan sisa makanan, ya Mbok?” Ia lantas melangkah pergi dengan rasa puas, merasa dirinya telah menunjukkan ketegasan seorang tuan rumah yang teliti.

Pintu berderit menutup. Mbok Pinem membawa perkakas pembersihnya ke kamar istirahat. Namun tatkala ia mulai merapikan kasur kapuk dan menepuk-nepuk bantal, bayangan si kecil Rian kembali menghantam hatinya dengan telak. Mengapa anak sebaik itu harus menanggung derita sedemikian rupa? Itulah misteri batin yang tak pernah bisa ia cerna. Mengapa seorang anak tak berdosa harus berjuang mati-matian hanya untuk menarik selembar napas?

Dari dada kecil Rian terdengar suara mengorok berat bagaikan air mendidih di dalam periuk tanah. Ada dahak pekat yang menyumbat pernapasannya. Setiap kali ia batuk, keringat dingin bercucuran membasahi keningnya; matanya melotot, jemarinya meronta lemah. Namun yang paling menyayat hati adalah ketika ia terdiam lemas tanpa suara, menatap dengan mata sayu seolah memprotes takdir mengapa ia harus merasakan sakit separah itu.

“Bukannya Mbah tidak sayang padamu, Nduk, Cah bagus…” bisik Mbok Pinem sambil mengusap lembut rambut basah di dekat telinga cucunya. Namun bocah itu hanya membuang muka perlahan, tampak pasrah dalam diam keheningan malam.

Dan pada akhirnya… Mbok Pinem menarik selimut kasar menutup petiduran itu. Tidak, ia tidak sanggup lagi mengenangnya. Beban hidupnya sudah melampaui batas kemampuan seorang manusia. Selama ini ia selalu menahan diri, menjaga martabat keluarga, dan tidak pernah sekalipun terlihat menangis di hadapan orang lain. Tidak seorang pun—bahkan anak kandungnya sendiri—pernah melihat Mbok Pinem meneteskan air mata. Ia selalu tampil tegar. Tapi kini! Rian telah tiada—apa lagi yang tersisa dalam hidupnya? Ia benar-benar sebatang kara. Cucu itulah satu-satunya permata hidupnya, dan kini direbut pula oleh Sang Maha Kuasa. Mengapa semua cobaan ini menimpanya? batinnya menjerit. “Apa salah hamba… Apa salah hamba ya Allah…” gumamnya lirih.

Seketika sapu ijuk di tangannya terjatuh. Ia mendapati dirinya sudah berdiri di tengah dapur. Kepedihan di dadanya begitu menghimpit hingga ia spontan mengenakan selendang tudungnya, menyambar kebaya, dan melangkah keluar rumah bagaikan orang linglung. Ia berjalan tanpa arah tujuan, seolah dengan melangkah ia bisa lari dari hantaman kenyataan pahit yang menghancurkan jiwanya…

Udara sore Batavia berembus sejuk diiringi titik-titik gerimis. Orang-orang berlalu-lalang dengan tergesa di jalanan loji; kaum pria melangkah tegap bersepatu lars, para wanita berjalan tenang berpayung kertas. Dan tidak seorang pun yang peduli pada nasib seorang perempuan tua jelata. Sekalipun ia meratap sejadi-jadinya di tepi jalan, takkan ada yang memedulikannya, bahkan ia bisa disangka pengacau keamanan oleh serdadu ronda.

Namun di tengah desakan isak tangis yang tertahan, bayangan si kecil Rian seolah hadir dalam pelukannya. Ya, itulah yang sangat ia dambakan saat ini. Mbok Pinem ingin menangis. Menumpahkan segala sesak di dada seluas-luasnya, meratapi kepedihan hidupnya sejak masa-masa kelam di bawah tekanan juru masak kolonial dahulu, berlanjut pada kepedihan kehilangan ketujuh buah hatinya, kematian suami tercinta, anak-anaknya yang tercerai-berai, hingga puncaknya kepergian si kecil Rian. Namun untuk menangis sejadi-jadinya meluapkan bertahun-tahun derita tentu membutuhkan waktu yang panjang. Dan kini, saat untuk meratap itu telah tiba. Ia sudah tak mampu lagi menahannya… Ke mana ia harus mencari tempat berteduh?

“Berat sekali nasib Mbok Pinem…” Benar, hidupnya memang sekeras batu karang! Dagu wanita tua itu mulai bergetar hebat; waktunya tidak banyak. Tapi di mana? Di mana ia bisa menumpahkan tangisannya?

Ia tidak bisa pulang ke rumah; Asih ada di sana, yang justru akan semakin terpukul melihat ibunya hancur. Ia tidak bisa duduk sembarangan di bangku taman kota; serdadu kolonial pasti akan datang mengusirnya dan melontarkan pertanyaan interogasi. Ia tentu tidak bisa kembali ke petak rumah sang penulis muda; ia tidak memiliki hak untuk menangis di tempat orang asing. Jika ia terduduk di emperan toko, serdadu patroli malam akan menangkapnya.

Oh, apakah tidak ada secuil tempat di bumi Nusantara ini di mana ia bisa bersembunyi seorang diri, meratapi nasibnya tanpa mengganggu siapa pun dan tanpa dicemaskan orang lain? Tempat di mana ia bisa melepaskan air matanya setelah sekian lama terkunci rapat?

Mbok Pinem berdiri tegak termangu menatap jalanan kampung yang basah. Angin malam meniup selendangnya hingga berkibar. Gerimis pun turun semakin lebat. Di dunia yang sempit bagi kaum kecil itu, ternyata tidak ada tempat baginya untuk sekadar menangis. ***

____________________

Aditiya Widodo Putra. Penulis lintas bidang berusia 18 tahun dari Kota Semarang, kota yang mengajarkan bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan dalam satu pandangan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada. Pemilik akun Instagram @adit_widodoputra.