Politik
Bila ada domba hitam,
maka masukkanlah ke dalam lubang putih,
sebabnya agar terhindar dari para gembala
yang membawa panah atau pisau—
menyembelih leher, bukan kaki atau tangan.
Ia perlu beberapa bagian saja,
bukan hati atau jantung,
tapi kepala—sebab ada muka.
Sebelum berakhir laga
atau serangan fajar,
hati-hati salah sasar—
di mana tertembak peluru liar;
muka yang tertembus
sudah ditandai gambar sasaran.
Bila ada serigala mencari mangsa tengah malam,
maka biarlah saja—
sebabnya sebelum udara subuh kehilangan aroma,
bangunnya raga pura-pura,
di mana lampu neon masih menyala terang
dan laga belum berakhir.
Tapi bila bunyi batu
melempar ke tiang listrik,
laga permainan pun sudah tamat.
Adakah yang lebih berhak
dibanding Tuhan di dunia siksa ini?
Kita tak bisa menaruh janji
pada tutup botol kosong yang berisi angin,
kita tak bisa menembak api
di tengah badai pasir,
kita tak bisa membangun gunung
suntuk sehari—
kenapa kita berani melangkah?
Banjarmasin, November 2021
____________________
Di Tengah Rimba Panas
Semenjak itu
cuaca berubah
dan suasana tak pernah lagi
mengulangkan peristiwa,
seperti rimbun mengelupas
sebab panas yang terlena
Entah apa yang diraba,
meski suasana dan cuaca itu
berubah hampa
terkeluar asap dupa yang menguap
tersesat dalam nestapa
hilang dirembuk sirna
Di tengah rimbun panas ini,
hanya angan bergejolak tanpa ihwal,
dan kesakitan di dada
setiap bangun tidur
terkhayal kisah belum pasti
menyiksa diri dengan tumpukkan ilusi
terbayang di depan mata yang maya
Banjarmasin, November 2023
____________________
Almaty
Rasa selera berubah
dimana atmosfer berbeda
dari biasanya
Dengan mata penuh asing
dan badan yang masih usang
Angin berpusing seperti suara yang langka
tebing-tebing curam berwarna merah yang melunjang
seperti luka bumi yang ternganga
Danau sunyi berbentuk bulat
hamparan gelombang tak terikat
dimana batang-batang kayu menjelma salju yang beku
Senja yang terpantul
di kaca yang retak
bayang hampir pecah
Malam menuntun penat
dan mata tali yang terikat
langit saat itu berbeda
dimana selera tetap sama
Almaty, Juni 2025
____________________
Ikuta Zen. Penulis kelahiran Kalimantan Selatan. Menulis puisi dari tahun 2015



0 Komentar