Kemarau
menjadi penanda hari ketika aku keluar dari selangkangan Emak. Siang itu
matahari serasa tepat berada di atas ubun-ubun. Suhu udara mencapai tiga puluh
sembilan derajat Celcius. Emak tak sempat melahirkan di bidan. Beliau merasakan
kontraksi luar biasa saat sedang memasak di dapur dan seketika pecah ketuban.
Emak berteriak dengan sisa tenaga. Para tetangga berdatangan membantu
persalinan. Sebagian lagi tergopoh-gopoh memanggil Mak Praji, dukun bayi
terkenal di kampungku.
Emak
dibaringkan di amben—semacam
ranjang—dapur yang terbuat dari bambu. Wajahnya memerah selama proses
mengejan, seakan berjuang keras mengeluarkan bongkahan bara. Begitu pun Mak
Praji dan beberapa orang yang membantu. Tubuh mereka dipenuhi peluh. Siang itu,
aku menjelma bayi lelaki yang lahir di pinggiran kota berjuluk Serpihan Neraka.
Aku menangis tapi lebih serupa lolongan kemarahan. Mbah Juna, tetangga sebelah
rumah Emaklah yang mengumandangkan adzan dan iqamah di kedua telingaku.
“Udah
disiapin nama belum, Tin?” tanya Mbah Juna menyerahkanku ke gendongan Emak.
“Udah,
Mbah. Namanya Raka Geni,” jawab Emak lemah seraya menerimaku dan mendekapku
untuk segera disusui.
Untuk
pertama kalinya, kutatap wajah Emak. Inilah wanita yang mengandungku selama
sembilan bulan. Dan kini harus merasakan beban berat menjadi ibu seorang diri.
Sementara Ilham, kakakku yang baru berusia empat tahun terus bertanya tentang
Bapak. “Kenapa Bapak dibakar, Mak? Emangnya ayam apa dibakar?” tanyanya polos
ketika pelan-pelan diceritakan bahwa Bapak telah tewas. Seisi kampung
kasak-kusuk membicarakan Emak sebagai si Titin malang yang suaminya dibakar
hidup-hidup karena dituduh mencuri.
Tapi tenang saja, Mak. Raka tidak akan membiarkan Emak bersedih lagi. Itu janjiku pada Emak. Akan kucari makhluk-makhluk laknat itu dan memastikan mereka menebusnya kontan. Tubuhku menggelepar seperti kejang membuat Emak histeris ketakutan. Ia memanggil-manggil Mak Praji yang masih membersihkan sejumlah kain sisa persalinan. Suhu tubuhku terus memanas, memanas, dan memanas hingga seluruh pakaianku mulai terbakar. Aku menggulung diri, terbang menjadi lingkaran bola dengan pijar api merah menyala. Aku memelesat mencari jejak kehidupan terakhir Bapak dua bulan lalu saat aku masih di perut Emak. Di bawah sana kulihat Emak tampak syok, orang-orang di sekitarnya ikut menengadah menatapku dengan seribu tanya. Ada yang bilang aku ini bayi setan, ada yang mengatakan aku lahir untuk balas dendam, ada yang terus mengucapkan takbir. Terserah mereka sajalah.
Di
ceruk tepi jalan inilah Bapak mengembuskan napas terakhir. Pada sore nahas itu
Bapak hendak mengantarkan amplifier
yang telah diservis ke rumah pelanggannya tak jauh dari Pasar Muara Bakti.
Beliau mampir sejenak ke sebuah musala untuk menunaikan shalat ashar. Agar tak
dicuri orang, Bapak mengangkat amplifier
itu dari jok motor dan membawanya serta ke dalam mesjid. Selepas shalat,
seseorang melihat tanpa bertanya dulu langsung meneriakinya maling.
Dalam
sekejap bapakku menjadi bulan-bulanan warga. Sambil berlari menyelamatkan diri
ke kampung sebelah, Bapak berusaha menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Tetapi
massa kian banyak, Bapak dikepung dari berbagai arah. Perut dan punggung Bapak
dijotos bogem mentah. Ketika jatuh tersungkur, kepala Bapak diinjak-injak.
Seluruh tubuhnya jadi sasaran tendangan. Kata makian terdengar bersahutan.
Wajah Bapak sudah babak belur, dengan suara parau masih mencoba menjelaskan.
Tapi tak ada satu orang pun yang mendengarkan.
Seperti
Tuhan, mereka sibuk menjadi hakim dadakan. Dalam keramaian, mereka mendapat
suntikan keberanian melebihi aparat. Merasa berhak menentukan hukuman dan
menghabisi nyawa seseorang. Tak cukup melihat bapakku meregang nyawa,
seseorang—yang bagiku sudah dirasuki iblis—menyiram bensin ke tubuh Bapak dan
membakarnya hidup-hidup. Tubuh Bapak menggeliat kepanasan namun tak satu pun
sudi menolong. Mereka bersorak mengumpat puas. Akhirnya maling ini mati di
tangan mereka. Ya, bapakku tewas dengan sejukur tubuh gosong. Kabar itu cepat
tersebar.
Andai Bapak memang mencuri, pantaskah diperlakukan keji begitu? Beranikah mereka melakukan hal yang sama pada maling duit rakyat yang duduk di kursi dewan sana? Saat mayat Bapak tiba di rumah, Emak jatuh pingsan berkali-kali. Tak percaya jika tulang punggung keluarga ini dilenyapkan secara brutal. Terlebih perut Emak kian membuncit mengandungku. Sejak saat itu, airmatanya sering tak terbendung jika mengingat kematian Bapak. Aku meresapi setiap kesedihannya. Setiap sari pati nutrisinya yang masuk ke tubuhku berubah menjadi percikan api. Aku bertekad untuk menghapus kesedihan Emak jika lahir kelak. Seseorang harus membayar airmata Emak dengan harga yang mahal. Uang sebanyak apa pun tidak akan mampu menghidupkan kembali Bapak. Maka biar impas, nyawa harus dibayar nyawa.
Di bawah sana kulihat si Somad, lelaki berwajah sengak yang menyiramkan bensin ke tubuh Bapak. Dia masih muda, tapi sudah hendak berlagak jadi begundal kampung. Baik, akan kutunjukkan bagaimana rasanya dibakar hidup-hidup. Kebetulan dia sedang mengisi bahan bakar di sebuah warung kelontong. Dengan santai dia menyalakan sebatang rokok sambil kembali menstarter motor. Aku memelesat ke arahnya, membakar habis rokok itu. Somad terkejut. Spontan dia melepas rokok itu dan jatuh ke tangki yang belum sempat ditutup. Seketika api berkobar lalu menjalar ke celana pemuda itu. Aku menikmati momen saat dia panik berusaha menyelamatkan aset di antara selangkangannya. Dalam hitungan menit, motornya terbakar hebat dan meledak. Somad terlempar dengan luka bakar serius. Kobaran api di celana cepat melebar ke seluruh pakaiannya.
“Tolooooonggg!
Tolooooonggg!” lolong Somad tak kuasa menahan panas.
Sejumlah
orang datang berusaha memadamkan api dengan menyiramkan air ke tubuh Somad.
Tapi siapa pun yang berusaha menolongnya ikut tersambar. Aku telah menyulap air
itu menjadi bensin hingga api kian ganas. Mereka berlompatan tak terkendali
seperti api yang menari-nari. Aku tertawa menyaksikan histeria mereka dari
ketinggian. Satu demi satu dari mereka tewas terbakar. Semesta mendukung
amarahku. Angin terus berembus. Sekecil apa pun gesekan akan menjadi api. Mentari berkontribusi menyumbangkan terik
layaknya siang bolong, padahal hari masih pagi.
Dalam
sekejap kampung itu menjadi serpihan neraka yang sesungguhnya. Setelah puas
menuntaskan kesumat, aku terbang ke rumah Emak. Menjadi Raka Geni yang mungil
menggemaskan. Emak terus berucap syukur melihat bayinya kembali, mendekapku
dalam buaiannya, ditemani Ilham yang urung jua berhenti bertanya tentang Bapak.
Hanya perlu hitungan detik untuk membuat
kabar terbakarnya satu kampung yang menewaskan seluruh warganya tersebar. Aku
tersenyum. Beginilah dendam bekerja. Cara
Raka Geni, bayi lelaki yang menjadi bola api.***
Rin Ismi, pegiat literasi, tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

0 Komentar