Algernon Blackwood
Laki-laki itu menatapnya. Tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap. Kemudian wajah itu lenyap.
Shorthouse mundur. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Bibinya langsung memeluk lengannya. Pada saat yang sama terdengar suara langkah kaki yang cepat dan berat. Langkah kaki itu sepertinya berlari melewati ruangan.
Kemudian lilin padam. Bibinya menjerit. Shorthouse meraba-raba mencari korek. Tangannya gemetar. Akhirnya cahaya kecil menyala. Mereka berdiri saling berhadapan dan keduanya pucat.
“Apa yang kau lihat?” tanya bibinya.
Shorthouse tidak langsung menjawab. Ia tidak ingin mengatakan bahwa ia telah melihat wajah seorang laki-laki yang akhirnya akan menambah ketakutan perempuan tua itu.
“Tidak ada apa-apa,” katanya akhirnya.
Bibinya menatapnya lama kemudian menunduk. Mereka melihat lilin yang tadi diletakkan di lantai. Shorthouse mengambilnya lalu ia terdiam. Ia menemukan bahwa sumbu lilin itu bukan padam karena ditiup. Akan tetapi karena ditekan ke dalam lelehan lilin, seolah seseorang telah menekannya dengan jari.
Mereka saling berpandangan. Tidak ada yang berani berkata. Namun keduanya memahami hal yang sama. Mereka merasa bahwa sesuatu telah berada di dekat mereka. Pastinya sesuatu yang dapat menyentuh benda-benda namun tidak mereka lihat.
Shorthouse merasakan keberaniannya kembali tumbuh sedikit demi sedikit. Ia tidak tahu apakah itu keberanian sungguhan atau hanya naluri untuk bertahan. Namun ia tahu satu hal, bahwa mereka tidak boleh tetap diam. Mereka harus bergerak untuk menemukan apa yang ada di rumah itu.
Lalu mereka melanjutkan pemeriksaan, naik ke lantai berikutnya. Kemudian ke lantai paling atas. Di sana mereka menemukan kamar-kamar kecil yang dahulu digunakan para pelayan. Semuanya dalam keadaan rusak. Ada kursi-kursi tua, lemari yang pintunya sudah copot, cermin retak, dan empat tidur yang nyaris roboh. Juga sarang laba-laba menggantung dari langit-langit rendah.
Di ruangan itu jendela-jendelanya kecil. Udara juga lebih dingin. Tempat itu begitu menyedihkan sehingga mereka tidak ingin berlama-lama. Dan akhirnya mereka akhirnya memilih sebuah kamar kecil di dekat tangga.
Jam menunjukkan tengah malam. Kamar itu dahulu digunakan untuk menyimpan pakaian. Dan di kamar itulah, menurut cerita, penjaga kandang pernah mengejar perempuan yang hendak dibunuhnya.
Mereka membiarkan pintu sedikit terbuka dan ilin diletakkan di lantai. Lalu mereka duduk di atas mantel yang dibentangkan. Shorthouse menempatkan dirinya dekat pintu. Dari sana ia bisa melihat tangga utama yang turun ke bawah dan tangga kecil menuju kamar-kamar pelayan di lantai paling atas.
Tongkatnya diletakkan di samping sehingga mudah diraih jika diperlukan. Di luar jendela, bulan bersinar. Bintang-bintang terlihat jelas. Langit begitu tenang hingga terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda dari rumah tempat mereka berada. Dari kejauhan terdengar suara laut. Berat dan dalam, seperti seseorang yang menghela napas panjang dalam tidur.
Di seluruh kota, jam-jam mulai berdentang. Satu. Dua. Tiga. Suara itu menyebar melalui malam. Kemudian semuanya kembali sunyi. Shorthouse menyadari bahwa kesunyian rumah itu berbeda dari kesunyian di luar. Di luar, kesunyian hanya berarti tidak ada suara. Sedangkan di dalam rumah ini, kesunyian terasa seperti penantian. Seolah sesuatu sedang menunggu.
Mereka berbicara dengan suara sangat pelan, sampai suara mereka sendiri terdengar asing. Mereka tidak ingin berbicara terlalu keras. Entah mengapa udara di kamar semakin dingin. Bukan dingin malam, tapi dingin yang lain, yaitu dingin yang membuat tubuh kehilangan kekuatannya.
Shorthouse merasakan keberaniannya perlahan surut. Bukan karena ia melihat sesuatu. Justru karena ia tidak melihat apa-apa. Ia hanya merasa sesuatu yang tidak terlihat sedang bergerak di dalam rumah. Beberapa kali ia mendengar suara samar. Ia mencoba memusatkan perhatian. Suara itu menghilang, kemudian muncul lagi. Pelan seperti langkah kaki seseorang yang berusaha tidak terdengar.
Awalnya Shorthouse mengira suara itu berasal dari bawah, mungkin ari ruang duduk atau dapur. Namun setelah beberapa saat ia menyadari sesuatu. Suara itu tidak berasal dari bawah tapi dari atas, dari lantai tempat kamar-kamar para pelayan berada.
Ia menahan napas. Langkah kaki itu terdengar semakin jelas. Seseorang berjalan di lorong, bergerak dari satu kamar ke kamar lain sembari sesekali terdengar suara benda yang tersenggol. Mungkin kursi, meja, atau sesuatu yang berat.
Shorthouse perlahan menoleh kepada bibinya. Dan saat itulah ia melihat sesuatu yang jauh lebih aneh daripada suara langkah kaki itu. Wajah bibinya berubah. Keriput-keriput di wajah perempuan tua itu seolah menghilang. Kulitnya menjadi lebih halus dan muda.
Untuk sesaat Shorthouse tidak mengenalinya. Ia seperti melihat wajah seorang gadis yang sama sekali tidak memiliki ekspresi, kosong. Namun matanya masih mata seorang perempuan tua, mata yang dipenuhi ketakutan.
Shorthouse menatapnya. Bibinya akhirnya menyadari bahwa ia sedang diperhatikan. Ia menoleh. Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang. Kemudian bibinya tersenyum, senyum yang sangat tipis.
“Ada apa?”
“Aku tidak tahu.”
Suaranya hampir tidak terdengar. Bibinya menarik napas.
“Aku kedinginan.”
Ia mencoba tertawa.
“Dan mungkin sedikit takut.”
Shorthouse hendak bangkit untuk menutup jendela. Namun bibinya langsung mencengkeram lengannya.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Jangan tinggalkan aku.”
Ia memandang ke arah tangga.
“Itu di atas.”
Suaranya bergetar.
“Aku tahu.”
Shorthouse juga tahu. Ia merasakan hal yang sama. Sesuatu memang ada di atas sana.
Lalu ia menuangkan sedikit brendi untuk bibinya. Perempuan tua itu meneguknya dengan tangan gemetar. Shorthouse mulai berpikir bahwa mereka seharusnya pergi. Namun ia segera menyadari bahwa melarikan diri sekarang mungkin justru lebih berbahaya. Ada sesuatu yang sedang mengambil alih keberanian mereka sedikit demi sedikit. Jika mereka terus duduk dan menunggu, mereka akan semakin lemah. Mereka harus melakukan sesuatu sekarang.
Shorthouse memandang tangga, lalu beralih ke bibinya.
“Kita naik.”
Bibinya menatapnya.
“Apa?”
“Kita naik ke atas.”
Ia berdiri.
“Kita lihat sendiri apa yang ada di sana.”
Suara langkah kaki itu masih terdengar. Pelan dan berat, seperti sedang menunggu. Shorthouse meraih tongkatnya. Kemudian ia mengambil lilin.
“Ayo, Aunt Julia.”
Ia menatap perempuan tua itu.
“Kita sudah sampai sejauh ini. Kita tidak akan berhenti sekarang.”
Mereka menyeberangi lorong gelap itu, berusaha tidak menatap ruang hitam yang menganga di balik pagar tangga. Lalu mereka mulai menaiki tangga sempit, mendekati suara-suara yang dari menit ke menit terdengar semakin keras dan semakin dekat.
Di tengah tangga, Aunt Julia tersandung. Shorthouse segera berbalik dan meraih lengannya. Tepat pada saat itu, terdengar suara benturan dahsyat dari koridor kamar para pelayan di lantai atas. Sesaat kemudian, sebuah jeritan melengking dan menyayat terdengar. Jeritan itu seperti campuran antara teriakan ketakutan dan permintaan tolong.
Mereka belum sempat bergerak, bahkan belum sempat mundur satu anak tangga pun, ketika seseorang berlari dari koridor di atas mereka. Langkahnya kacau. Ia berlari sekuat tenaga, menuruni tangga dengan terburu-buru, melompati tiga anak tangga sekaligus. Langkah itu ringan dan tidak beraturan. Namun tepat di belakangnya terdengar langkah lain yang lebih berat. Begitu berat sampai-sampai tangga itu seakan ikut bergetar.
Shorthouse dan Aunt Julia hanya sempat merapatkan tubuh ke dinding. Lalu sesuatu melintas di hadapan mereka. Ada dua sosok. Yang satu mengejar, yang satu dikejar. Keduanya melesat dengan kecepatan penuh, hanya berselang sesaat. Semuanya terjadi seperti pusaran suara yang tiba-tiba membelah kesunyian tengah malam di rumah kosong itu.
Kedua pelari tersebut melewati mereka. Benar-benar melewati mereka. Namun Shorthouse dan Aunt Julia tidak melihat apa-apa. Tidak ada tangan ataupun lengan. Juga tidak ada wajah. Bahkan tidak ada sehelai kain pun yang tampak berkibar, hanya suara.
Kemudian hening selama beberapa detik.
Sosok pertama, yang langkahnya lebih ringan, jelas merupakan orang yang dikejar. Dia berlari dengan langkah tak menentu menuju kamar kecil yang baru saja mereka tinggalkan.
Sosok kedua menyusul. Dari dalam kamar terdengar suara pergumulan. Suara orang terengah-engah, lalu jeritan yang seperti tertahan di tenggorokan. Setelah itu, terdengar langkah kaki keluar ke lorong. Hanya satu orang, dan langkahnya berat dan mantap.
Kesunyian kembali menguasai rumah itu selama kira-kira setengah menit. Kemudian terdengar suara sesuatu melesat di udara. Disusul bunyi benturan tumpul yang menggelegar dari bagian bawah rumah. Ada sesuatu yang jatuh ke lantai batu di aula. Setelah itu, tidak ada suara apa pun.
Rumah itu kembali sepenuhnya diam. Tidak ada yang bergerak. Api lilin tetap tegak dan tenang. Sejak tadi pun nyalanya tidak pernah bergoyang. Udara di sekitar mereka sama sekali tidak terusik.
Aunt Julia gemetar hebat karena ketakutan. Tanpa menunggu Shorthouse, ia mulai meraba-raba jalan menuruni tangga. Ia menangis pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Shorthouse merangkulnya dan membantunya turun. Tubuh perempuan tua itu gemetar seperti daun. Ia masuk sebentar ke kamar kecil tadi dan mengambil mantel yang terjatuh di lantai. Kemudian mereka berjalan berdampingan. Langkah mereka perlahan, tanpa sepatah kata pun.
Mereka menuruni tiga lantai menuju aula. Tak seorang pun dari mereka berani menoleh ke belakang. Di sepanjang tangga, mereka merasakan sesuatu mengikuti. Selangkah demi selangkah. Ketika mereka mempercepat langkah, sesuatu itu tertinggal. Ketika mereka memperlambat langkah, sesuatu itu kembali mendekat. Namun mereka tidak pernah sekali pun menoleh untuk melihatnya.
Pada setiap belokan tangga, mereka justru menundukkan kepala. Mereka takut melihat apa yang mungkin sedang berdiri di anak tangga di belakang mereka. Dengan tangan gemetar, Shorthouse akhirnya membuka pintu depan.
Mereka keluar. Cahaya bulan menyambut mereka. Keduanya menghirup udara malam yang dingin dari arah laut dalam-dalam. Dan baru saat itulah mereka merasa bahwa mereka benar-benar telah meninggalkan rumah itu.
____________________
Penulis:
Algernon Blackwood. (14 Maret 1869 – 10 Desember 1951). Penulis Inggris yang sangat produktif dan terkenal sebagai salah satu maestro cerita hantu serta fiksi supranatural dalam sejarah sastra horor dan fantasi. Naskah asli ini berjudul: THE EMPTY HOUSE
____________________
Penerjemah:
Erna Surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten



0 Komentar