Algernon Blackwood

Ada rumah-rumah tertentu, seperti halnya ada orang-orang tertentu, yang sejak pertama kali dilihat sudah memancarkan sesuatu yang jahat. Pada manusia, tanda itu tidak selalu mudah dikenali. Seseorang bisa saja memiliki wajah terbuka dan senyum yang menyenangkan, tetapi setelah beberapa lama berada di dekatnya, tiba-tiba saja tumbuh keyakinan yang sulit dibantah bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya. Bahwa orang itu jahat.

Entah bagaimana, mereka seperti membawa serta suasana yang penuh pikiran-pikiran gelap dan rahasia. Suasana itu menular kepada orang-orang di sekelilingnya, membuat mereka, tanpa sadar, ingin menjauh seperti menjauhi sesuatu yang mengandung penyakit. Barangkali rumah-rumah pun demikian.

Mungkin jejak kejahatan yang pernah terjadi di bawah sebuah atap tidak serta-merta hilang bersama orang-orang yang melakukannya. Sebagiannya tetap tinggal. Menempel pada dinding, lantai, tangga, dan kamar-kamar yang pernah menjadi saksi. Dan jejak itulah yang membuat bulu kuduk berdiri, rambut di tengkuk meremang.

Sebagian gairah orang yang melakukan kejahatan, sebagian kengerian yang dirasakan korbannya, seolah meresap ke dalam tempat itu. Lalu, ketika seseorang yang tidak tahu apa-apa datang dan berdiri di sana, ia ikut merasakannya. Tiba-tiba sarafnya menegang, kulitnya merinding, dan darahnya terasa dingin. Ia merasa takut, meski tak tahu apa yang harus ditakutinya.

Dari luar, sebenarnya tidak ada sesuatu pun pada rumah itu yang dapat menjelaskan cerita-cerita mengerikan tentangnya. Rumah itu tidak terpencil. Tidak pula terbengkalai. Ia berdiri di salah satu sudut alun-alun, terjepit di antara rumah-rumah lain, dan sekilas tampak sama saja dengan semuanya. Jumlah jendelanya sama. Balkonnya sama, menghadap ke taman. Tangga putih yang menuju pintu depan berwarna hitam dan berat itu pun sama.

Di belakangnya terdapat sebidang tanah hijau yang sempit, dibatasi tanaman box yang dipangkas rapi, memanjang hingga dinding yang memisahkannya dari halaman belakang rumah-rumah tetangga. Bahkan cerobong asap di atas atapnya tampak sama jumlahnya, juga lebar tepian atapnya. Kemiringannya pun tidak berbeda. Begitu pula pagar yang mengelilingi halaman belakang yang kotor itu.

Namun rumah di alun-alun tersebut, rumah yang, jika dilihat sepintas, tidak berbeda dari lima puluh rumah jelek lain di sekelilingnya, ternyata sama sekali tidak sama. Ada sesuatu yang berbeda. Dan itu sangat mengerikan. Apa sebenarnya yang membuatnya berbeda, sunggih sangat sulit dikatakan. Perbedaannya memang tidak tampak oleh mata, namun ia juga bukan sekadar khayalan.

Orang-orang yang pernah menghabiskan waktu di dalam rumah itu, bahkan mereka yang sama sekali tidak tahu sejarahnya, pernah berkata dengan sungguh-sungguh bahwa ada kamar-kamar tertentu yang sangat angker. Dan lebih memilih mati daripada memasukinya lagi. Mereka juga mengatakan bahwa seluruh rumah memancarkan sesuatu yang membuat tubuh mereka diliputi ketakutan. Dan ketakutan yang bukan sekadar perasaan samar, melainkan sesuatu yang benar-benar dapat dirasakan.

Lalu para penyewa datang. Satu demi satu, tanpa mengetahui apa pun tentang masa lalu rumah tersebut. Dan satu demi satu dari mereka akhirnya pergi dalam jangan waktu yang singkat. Jumlahnya begitu banyak hingga akhirnya menjadi buah bibir seluruh kota.

***

Shorthouse tiba di rumah kecil bibinya, Aunt Julia. Rumah itu ada di tepi laut. Waktu itu di suatu akhir pekan. Shorthouse ia mendapati perempuan tua itu sedang menyimpan sesuatu. Ia jadi begitu bersemangat.

Pagi itu ia menerima telegram dari bibinya. Ia datang dengan bayangan akan melewatkan akhir pekan yang membosankan, seperti biasanya. Namun begitu ia menjabat tangan perempuan tua itu dan mencium pipinya yang keriput, ia langsung menangkap sesuatu yang aneh.

Bibinya sedang sangat gembira, bukan perasaan biasa. Ada semacam semangat yang hampir kekanak-kanakan dalam dirinya. Kesan itu semakin kuat ketika Shorthouse mengetahui bahwa tidak ada tamu lain yang akan datang dan bahwa ia memang sengaja dipanggil untuk suatu tujuan tertentu. Ada sesuatu yang sedang direncanakan. Dan sesuatu itu, tampaknya, cukup penting.

Bibinya adalah perempuan tua yang belum pernah menikah. Perempuan itu selalu punya antusias terhadap hal-hal baru. Juga memiliki kemauan keras dan pikiran yang tajam. Jika sudah menginginkan sesuatu, biasanya ia akan menemukan jalan untuk mendapatkannya.

Rahasia itu terbongkar setelah minum teh.

Mereka sedang berjalan menyusuri tepi laut dalam cahaya senja ketika perempuan tua itu tiba-tiba berkata, “Aku sudah mendapatkan kuncinya.”

Suaranya bergetar oleh kegembiraan. Namun di balik kegembiraan itu ada sesuatu yang lain, sedikit rasa gentar.

“Kuncinya akan tetap bersamaku sampai hari Senin.”

“Kunci kamar pemandian?” tanya Shorthouse polos. Matanya masih mengarah ke laut.

Tidak ada cara yang lebih baik untuk membuat bibinya langsung mengatakan apa yang ada di pikirannya selain berpura-pura tidak mengerti.

“Bukan.”

Suaranya turun menjadi bisikan.

“Aku mendapatkan kunci rumah berhantu di alun-alun itu.”

Ia berhenti sebentar. “Malam ini aku akan masuk ke sana.”

Shorthouse merasakan sesuatu merambat pelan di sepanjang tulang punggungnya. Nada bercandanya lenyap. Ada sesuatu dalam suara perempuan tua itu yang membuatnya ikut berdebar. Ia tahu, bibinya sungguh-sungguh.

“Tapi kau tidak mungkin pergi sendirian.”

“Itulah sebabnya aku mengirim telegram kepadamu.”

Shorthouse menoleh. Wajah perempuan tua yang keriput dan sulit ditebak itu kini bersinar oleh kegembiraan. Semangatnya seperti cahaya yang memancar dari dalam tubuhnya sendiri. Matanya berkilat.

Sekali lagi Shorthouse merasakan getaran aneh di sepanjang punggungnya.

“Terima kasih, Aunt Julia,” katanya sopan. “Terima kasih banyak.”

“Aku sendiri tidak akan berani pergi,” lanjut bibinya. “Tapi kalau bersamamu, aku justru akan menikmatinya.”

Ia menatap Shorthouse dengan mata yang tiba-tiba penuh tantangan.

“Kau tidak takut pada apa pun, bukan?”

“Terima kasih banyak,” jawab Shorthouse sekali lagi.

Kemudian ia bertanya, “Apakah menurutmu sesuatu akan terjadi?”

“Oh, banyak yang sudah terjadi.”

Nada suara bibinya berubah. “Hanya saja semuanya ditutup-tutupi dengan sangat rapi. Tiga penyewa sudah datang dan pergi dalam beberapa bulan terakhir. Sekarang kabarnya rumah itu akan dibiarkan kosong untuk selamanya.”

Kini perhatian Shorthouse benar-benar terusik. Bibinya tidak sedang bermain-main.

“Rumah itu sangat tua,” lanjutnya. “Dan ceritanya, cerita yang tidak menyenangkan, sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Ada hubungannya dengan pembunuhan yang dilakukan seorang penjaga kandang karena cemburu. Ia memiliki hubungan dengan seorang pelayan perempuan di rumah itu.”

“Suatu malam ia bersembunyi di ruang bawah tanah. Setelah semua orang tidur, ia menyelinap ke kamar para pelayan. Ia mengejar perempuan itu sampai ke bordes tangga. Sebelum siapa pun sempat datang menolong, ia melemparkan tubuh perempuan itu melewati pagar tangga ke aula di bawah.”

“Lalu penjaga kandang itu?”

“Ditangkap, kurasa. Kemudian digantung karena pembunuhan. Tapi itu terjadi seratus tahun yang lalu. Aku belum berhasil menemukan rincian lebih jauh.”

Kini Shorthouse benar-benar tertarik. Namun ada satu hal yang membuatnya ragu. Ia memandang bibinya.

“Aku punya satu syarat.”

“Tidak ada yang akan menghentikanku pergi,” jawab perempuan tua itu. “Tapi katakanlah.”

“Kau harus berjanji bahwa kau bisa mengendalikan diri kalau sesuatu yang benar-benar mengerikan terjadi.”

Ia berhenti sebentar.

“Maksudku, kau yakin tidak akan terlalu ketakutan?”

“Jim,” kata bibinya sambil mencibir, “aku memang tidak muda lagi. Sarafku juga bukan saraf seorang gadis muda. Tapi selama aku bersamamu, aku tidak akan takut pada apa pun di dunia ini.”

Tentu saja, ucapan itu menyelesaikan semuanya. Shorthouse bukanlah orang yang suka menganggap dirinya pemberani. Ia hanya seorang pemuda biasa. Tetapi pujian yang menyentuh harga dirinya seperti itu sulit ditolak. Ia setuju pergi.

Secara naluriah, sejak saat itu ia mulai mempersiapkan dirinya. Ia menjaga tubuh dan pikirannya. Menyimpan tenaga. Menekan kegelisahan yang muncul. Seolah-olah di suatu tempat dalam dirinya ia sedang mengumpulkan cadangan keberanian untuk malam yang belum diketahuinya.

Sulit menjelaskan bagaimana proses itu terjadi. Namun ia berhasil. Dan kelak ia akan sangat membutuhkan cadangan tersebut.***

____________________

Penulis:

Algernon Blackwood. (14 Maret 1869 – 10 Desember 1951). Penulis Inggris yang sangat produktif dan terkenal sebagai salah satu maestro cerita hantu serta fiksi supranatural dalam sejarah sastra horor dan fantasi. Naskah asli ini berjudul: THE EMPTY HOUSE

____________________

Penerjemah:

Erna Surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten