Algernon Blackwood
Baru pukul setengah sebelas malam mereka berdiri di aula rumah bibinya. Cahaya lampu masih memenuhi ruangan. Kehangatan rumah masih menyelimuti mereka. Mereka masih berada di antara segala sesuatu yang akrab dan manusiawi.
Lalu pintu dibuka. Mereka melangkah keluar. Dan ketika pintu itu tertutup di belakang mereka, Shorthouse memandang jalanan yang sepi dan putih di bawah cahaya bulan. Saat itulah ia menyadari sesuatu. Malam itu bukan hanya tentang menghadapi ketakutannya sendiri. Ia juga harus membawa ketakutan bibinya.
Shorthouse melirik perempuan tua di sampingnya dan membayangkan bagaimana wajah itu akan berubah jika benar-benar dikuasai rasa takut. Satu-satunya hal yang membuatnya yakin adalah kepercayaannya kepada dirinya sendiri, juga kemauannya, dan juga kepada kekuatannya untuk tetap berdiri ketika kejutan datang.
Mereka berjalan perlahan melewati jalan-jalan kota yang sepi. Bulan musim gugur menggantung terang di atas atap-atap rumah, menumpahkan bayangan panjang ke jalan.
Tidak ada angin. Pepohonan di taman-taman kecil sepanjang tepi laut berdiri diam. Dalam cahaya bulan mereka tampak seperti sedang mengawasi kedua orang itu ketika mereka lewat.
Bibinya sesekali mengatakan sesuatu. Shorthouse tidak menjawab. Ia tahu perempuan tua itu hanya sedang berusaha menciptakan percakapan, membangun semacam pelindung dalam pikirannya sendiri agar tidak perlu memikirkan apa yang menunggu mereka.
Hanya beberapa jendela yang masih menyala. Hampir tidak ada asap yang keluar dari cerobong. Shorthouse mulai memperhatikan segala sesuatu. Bahkan hal-hal kecil.
Tak lama kemudian mereka berhenti di sebuah sudut jalan. Mereka memandang nama jalan yang tertulis di sisi sebuah rumah, tepat di bawah cahaya bulan. Tanpa berkata-kata, keduanya berbelok menuju alun-alun. Mereka menyeberang ke sisi yang berada dalam bayangan.
“Nomor tiga belas,” bisik bibinya.
Tak seorang pun mengatakan apa yang sama-sama mereka pikirkan. Mereka terus berjalan, menyeberangi hamparan cahaya bulan, lalu kembali masuk ke dalam bayangan.
Beberapa menit kemudian sebuah lengan perlahan menyelip ke lengan Shorthouse. Ia menoleh. Bibinya telah menggenggamnya. Saat itulah ia tahu bahwa petualangan mereka benar-benar telah dimulai. Dan ia juga tahu bahwa bibinya, sedikit demi sedikit, mulai menyerah pada pengaruh rumah yang ada di depan mereka. Perempuan tua itu membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Beberapa saat kemudian mereka berhenti. Rumah itu berdiri di hadapan mereka. Tinggi, sempit, dan menjulang ke dalam langit malam. Cat putihnya telah lama kehilangan warna. Jendela-jendelanya tanpa tirai menatap ke jalan. Cahaya bulan memantul pada beberapa kaca dan membuatnya tampak seperti mata yang terbuka. Dindingnya dipenuhi bekas aliran hujan. Catnya retak. Balkon di lantai pertama menjorok sedikit keluar, dengan bentuk yang entah mengapa tampak tidak wajar.
Namun, selain kesan sebuah rumah yang telah lama ditinggalkan, tidak ada sesuatu yang secara jelas membedakannya dari rumah-rumah lain. Reputasinya tak terjelaskan. Tidak ada sesuatu yang menjelaskan mengapa begitu banyak orang datang dan pergi dengan tergesa-gesa.
Mereka menoleh ke belakang. Jalanan kosong. Tidak ada seorang pun yang mengikuti. Kemudian mereka menaiki tangga, lalu berdiri di depan pintu hitam yang besar. Untuk sesaat mereka hanya diam.
Kemudian Shorthouse mengeluarkan kunci. Tangannya tidak setenang yang ia inginkan. Kunci itu sulit masuk ke lubangnya. Dan, jika ia mau jujur, selama beberapa detik mereka berdua berharap pintu itu tidak terbuka.
Akhirnya kunci berputar. Pintu bergerak. Di hadapan mereka terbuka kegelapan. Mereka memandang alun-alun untuk terakhir kalinya. Cahaya bulan masih ada di sana. Dunia yang mereka kenal masih ada di sana.
Lalu mereka masuk. Pintu menutup di belakang mereka dengan suara keras. Gema suara itu mengalir jauh ke dalam lorong-lorong kosong. Dan bersamaan dengan gema itu terdengar suara lain. Seseorang batuk. Tepat di samping mereka, begitu dekat hingga Shorthouse seolah dapat merasakan keberadaan orang itu dalam kegelapan.
Ia langsung mengayunkan tongkatnya. Tongkat itu menebas udara. Tidak mengenai apa-apa. Bibinya menarik napas tajam.
“Ada seseorang di sini,” bisiknya. “Aku mendengarnya.”
“Diam.”
Shorthouse berusaha terdengar tenang.
“Itu cuma suara pintu.”
“Oh, nyalakan lampu. Cepat.”
Ia merogoh kotak korek dengan tangan gemetar. Namun kotak itu terlepas. Korek api berhamburan di lantai batu dengan bunyi berderak. Tetapi tidak ada langkah kaki. Juga tidak terdengar suara orang menjauh. Tidak ada apa-apa.
Akhirnya mereka berhasil menyalakan lilin. Shorthouse mengangkatnya tinggi-tinggi. Dan rumah itu memperlihatkan wajahnya: aula yang luas, ruang makan di sebelah kiri, lorong panjang di depan, tangga yang menghilang ke dalam kegelapan.
Rumah itu kosong. Namun untuk pertama kalinya malam itu, Shorthouse merasa bahwa kekosongan bukan berarti tidak ada apa-apa. Ada sesuatu di sana. Namun belum mereka mengerti. Dan sesuatu itu seolah sedang menunggu.
Shorthouse mengangkat lilin lebih tinggi. Cahaya kecil itu bergerak di sepanjang dinding, menyentuh sudut-sudut gelap yang seolah mundur setiap kali diterangi.
Akhirnya mereka berdiri di aula. Tidak ada suara maupun gerakan. Hanya rumah tua itu, dengan segala kekosongannya, yang seakan-akan sedang memperhatikan mereka.
“Sekarang kita harus memeriksa seluruh rumah,” kata Shorthouse.
Suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia rasakan.
“Dari atas sampai bawah.”
Gema suaranya bergerak menjauh, masuk ke lorong-lorong yang gelap, lalu menghilang. Ia menoleh kepada bibinya. Wajah perempuan tua itu telah berubah. Dalam cahaya lilin yang bergetar, wajahnya tampak pucat. Namun ia mengangguk.
“Kita harus memastikan tidak ada siapa pun di sini,” katanya pelan. “Itu yang pertama.”
Mereka mulai bergerak. Shorthouse memegang lilin dengan satu tangan dan tongkatnya dengan tangan yang lain. Bibinya menggenggam lengannya erat-erat. Lalu mereka masuk ke ruang makan. Ruangan itu kosong. Tidak ada meja dan kursi. Tidak ada apa pun. Dinding-dindingnya telanjang. Perapian di salah satu sisi ruangan menganga hitam seperti mulut yang sudah lama tidak digunakan.
Mereka berjalan perlahan. Debu menutupi lantai. Setiap langkah terdengar terlalu keras. Shorthouse beberapa kali menoleh ke belakang. Ia tidak tahu apa yang diharapkannya akan dilihat. Mungkin seseorang atau sesuatu. Tetapi setiap kali ia menoleh, hanya ada lorong yang kosong. Dan anehnya, justru kekosongan itu yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Mereka bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain. Di mana-mana sama. Tidak ada perabot. Tidak ditemukan tanda-tanda bahwa seseorang tinggal di sana. Tetapi rumah itu tidak terasa mati. Ada sesuatu dalam kesunyian tersebut yang membuat Shorthouse merasa seolah mereka telah mengganggu sebuah kegiatan yang selama ini berlangsung tanpa sepengetahuan manusia. Seolah rumah itu memiliki kehidupannya sendiri. Dan kehidupan itu baru saja berhenti ketika mereka masuk.
Bayangan-bayangan di sudut ruangan tampak bergerak setiap kali nyala lilin bergoyang. Kadang-kadang Shorthouse merasa mendengar suara kecil. Bisikan, berganti dengan gemerisik. Sesuatu seperti langkah kaki yang sangat jauh. Namun setiap kali ia berhenti untuk mendengarkan, suara itu menghilang.
Aunt Julia semakin erat mencengkeram lengannya. Mereka kembali ke aula. Di sana tangga menuju lantai atas menunggu dalam kegelapan. Tangga itu lebar dan tidak berkarpet. Anak-anak tangganya terlihat pucat dalam cahaya bulan yang masuk melalui sebuah jendela. Sebagian besar tangga berada dalam bayangan.
Shorthouse memandang ke atas. Ia tidak bisa melihat ujungnya. Kegelapan di sana terasa begitu pekat hingga seolah-olah tangga itu tidak menuju lantai atas, melainkan masuk ke tempat lain.
Ia menarik napas.
“Ayo.”
Bibinya mengikuti. Mereka mulai naik. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Langkah mereka terdengar terlalu jelas di rumah yang sunyi itu. Namun ketika mereka hampir mencapai bordes, bibinya tersandung. Shorthouse segera menangkap lengannya.
“Tidak apa-apa?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat. Ia tahu bibinya berbohong. Namun mereka terus naik.
Udara semakin dingin. Ada bau lembap yang samar, bau rumah yang lama tertutup.
Mereka mencapai lantai pertama. Di sana terdapat dua ruang duduk besar yang saling terhubung. Keduanya kosong. Mereka memeriksanya dengan teliti. Tidak ada siapa pun dan apa pun.
Mereka membuka pintu-pintu, lalu memeriksa sudut-sudut, dan melihat ke balik pintu. Tetap tidak ada apa-apa.
Akhirnya mereka kembali ke bordes. Mereka hendak melanjutkan naik ketika tiba-tiba keduanya berhenti. Mereka mendengar suara. Sebuah pintu ditutup. Kemudian pintu lain. Lalu pintu ketiga. Suara-suara itu datang dari ruangan yang baru saja mereka tinggalkan.
Shorthouse menatap bibinya. Bibinya menatapnya. Mereka tidak perlu berkata-kata.
“Kita kembali,” kata Shorthouse.
Mereka turun. Langkah mereka terdengar cepat. Ketika sampai di ruang duduk, pintu lipat besar yang sebelumnya terbuka kini telah tertutup. Shorthouse berdiri di depannya. Tangannya terangkat. Untuk sesaat ia tidak bergerak. Kemudian ia mendorong pintu itu.
Pintu terbuka tapi tidak ada siapa-siapa. Ia masuk dan menemukan ruangan itu kosong. Ia memeriksa seluruh sudut. Tidak ada tempat bagi seseorang untuk bersembunyi.
Tidak ada jendela yang terbuka jadi tidak ada angin masuk. Namun pintu itu tadi memang telah tertutup. Mereka mencoba membuatnya bergerak sendiri. Tidak bisa. Ternyata pintu itu terlalu berat. Bahkan ketika Shorthouse mendorongnya sedikit dan melepaskan tangan, pintu itu tetap terbuka.
Tidak ada penjelasan. Mereka berdiri dalam diam. Kemudian bibinya berkata sangat pelan, “Ini sudah dimulai.”
Shorthouse tidak menjawab. Ia melihat arlojinya. Waktu menunjukkan kurang dari lima belas menit menuju tengah malam. Ia mengeluarkan buku catatan kecil dan menulis apa yang baru saja terjadi. Kemudian ia meletakkan lilin di lantai agar kedua tangannya bebas.
Ketika ia sedang membungkuk, sesuatu terjadi. Sesuatu yang tidak pernah bisa dilupakannya. Ia mengangkat kepala. Dan sebelum nyala lilin benar-benar padam, sebuah wajah muncul di hadapannya. Begitu dekat hingga hampir menyentuh wajahnya.
Wajah seorang laki-laki yang kasar dan gelap. Terlihat wajah itu penuh kemarahan. Matanya menyala oleh kebencian yang begitu kuat sehingga untuk sesaat Shorthouse tidak mampu bergerak.
____________________
Penulis:
Algernon Blackwood. (14 Maret 1869 – 10 Desember 1951). Penulis Inggris yang sangat produktif dan terkenal sebagai salah satu maestro cerita hantu serta fiksi supranatural dalam sejarah sastra horor dan fantasi. Naskah asli ini berjudul: THE EMPTY HOUSE
____________________
Penerjemah:
Erna Surya. Penulis dan guru yang tinggal di Klaten



0 Komentar