Judul Film: Resident Evil (2026)

Sutradara: Zach Cregger       

Penulis: Zach Cregger dan Shay Hatten

Pemeran: Austin Abrams, Zach Cherry, Kali Reis, Paul Walter Hauser, dan Johnno Wilson

Tokoh utama: Bryan

Produksi: Constantin Film, Columbia Pictures, dan Davis Films

Durasi: 94 menit

Film Resident Evil merupakan film horor, thriller, dan aksi yang disutradarai oleh Zach Cregger, sutradara yang sebelumnya dikenal melalui Barbarian dan Weapons. Film ini ditulis oleh Zach Cregger bersama Shay Hatten dan diproduksi oleh Constantin Film, Columbia Pictures, serta Davis Films. Untuk penayangannya di Indonesia, Resident Evil tercatat memiliki klasifikasi Dewasa 17 Tahun (D17), dengan durasi sekitar 94 menit.

Film ini dibintangi Austin Abrams sebagai Bryan, Zach Cherry sebagai Carl, Kali Reis sebagai Maxine, Paul Walter Hauser, serta Johnno Wilson. Film produksi Amerika Serikat ini menggunakan bahasa Inggris dan dirilis di bioskop pada September 2026. Di Indonesia, film tersebut mulai tayang pada 16 September 2026.

Bagi penggemar gim, judul Resident Evil tentu bukan sesuatu yang asing. Waralaba yang dikembangkan Capcom tersebut sudah lama dikenal melalui perpaduan horor, eksplorasi, teka-teki, dan ancaman biologis yang membuat pemain merasa terus berada dalam kondisi terdesak. Film Resident Evil versi 2026 mencoba membawa kembali perasaan tersebut ke layar lebar, tetapi tidak sekadar mengulang cerita dari film-film sebelumnya.

Zach Cregger memilih pendekatan yang cukup berani dengan membuat kisah baru yang tetap berada di dunia Resident Evil. Tokoh utamanya bukan Leon S. Kennedy, Claire Redfield, atau karakter ikonik lain dari gim. Sebaliknya, penonton diperkenalkan kepada Bryan, seorang kurir medis biasa yang sama sekali tidak tampak seperti pahlawan super. Pilihan tersebut justru menjadi salah satu kekuatan utama film ini.

Cerita berpusat pada Bryan yang mendapat tugas mengantarkan sebuah paket medis ke sebuah rumah sakit di Raccoon City. Pekerjaan tersebut pada awalnya terlihat sederhana. Namun, perjalanan Bryan berubah menjadi mimpi buruk ketika ia secara tidak sengaja menabrak seorang perempuan di tengah perjalanan. Ia kemudian berusaha memberikan pertolongan dan membawa perempuan tersebut ke rumah sakit.

Dari sinilah situasi perlahan berubah menjadi kekacauan. Raccoon City yang semula hanya menjadi tujuan pengiriman berubah menjadi tempat yang dipenuhi ancaman mematikan. Bryan harus menghadapi makhluk-makhluk yang telah mengalami mutasi sekaligus berusaha menyelesaikan tugasnya dan bertahan hidup. Latar wabah biologis dan kebocoran eksperimen di kota tersebut membuat cerita terasa sangat dekat dengan identitas Resident Evil.

Hal yang menarik adalah bagaimana film ini tidak langsung menjadikan Bryan sebagai karakter yang hebat. Ia bukan sosok yang sejak awal memiliki kemampuan bertarung luar biasa. Bryan lebih terlihat seperti orang biasa yang kebetulan berada di tempat yang salah pada waktu yang sangat buruk. Ketika menghadapi bahaya, reaksinya sering kali adalah panik, bingung, dan berusaha mencari jalan keluar.

Pendekatan ini membuat karakter Bryan terasa lebih manusiawi. Penonton dapat membayangkan bahwa jika mereka sendiri berada dalam situasi serupa, kemungkinan besar mereka juga tidak akan langsung berubah menjadi seseorang yang mampu menembak zombie dengan tenang. Austin Abrams mampu memanfaatkan karakter tersebut dengan baik. Ekspresi ketakutan, kepanikan, dan kebingungannya menjadi bagian penting dari pengalaman menonton.

Pendekatan seperti itu juga membuat Resident Evil terasa lebih dekat dengan konsep survival horror dibandingkan film aksi biasa. Zach Cregger tidak terlalu tertarik membuat Bryan sebagai tokoh yang terus-menerus mengalahkan musuh. Ketegangan justru muncul karena Bryan memiliki keterbatasan. Ia harus berpikir sebelum bertindak, mencari tempat aman, membaca keadaan, dan memanfaatkan lingkungan di sekitarnya.

Film ini memang tetap menghadirkan aksi dan kekerasan yang cukup intens, tetapi suasana takut dan terdesak menjadi bagian yang lebih dominan. Hal tersebut sejalan dengan visi Cregger untuk menangkap kembali nuansa permainan Resident Evil, khususnya rasa takut ketika pemain harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan sumber daya yang terbatas.

Salah satu kelebihan terbesar film ini adalah atmosfernya. Raccoon City tidak hanya dijadikan latar untuk menampilkan zombie, tetapi menjadi bagian dari pengalaman horor itu sendiri. Jalan yang sepi, lokasi yang terasa terisolasi, ruang-ruang sempit, serta kemunculan makhluk secara tiba-tiba membuat penonton tidak pernah benar-benar merasa aman. Film ini juga tidak sepenuhnya bergantung pada efek digital untuk menciptakan rasa takut.

Beberapa adegan menggunakan efek praktis yang membuat bentuk dan gerakan makhluk terasa lebih nyata. Salah satu adegan horornya bahkan mendapatkan perhatian karena penggunaan efek praktis untuk menciptakan sosok tubuh dan anggota badan yang bergerak secara mengganggu. Dari segi hubungan dengan gim, film ini juga cukup menarik.

Resident Evil (2026) tidak merupakan adaptasi langsung dari satu permainan tertentu, tetapi mengambil sejumlah unsur penting dari semesta gim. Raccoon City, Umbrella, T-virus, zombie, makhluk hasil mutasi, hingga elemen seperti mesin ketik menjadi bagian dari penghormatan terhadap sumber aslinya. Ceritanya sendiri berlangsung di sekitar periode peristiwa Resident Evil 2, tetapi dengan sudut pandang karakter baru.

Dengan demikian, penonton tidak perlu mengetahui seluruh cerita gim untuk memahami filmnya. Penggemar lama mendapatkan berbagai referensi yang menyenangkan, sedangkan penonton baru tetap bisa mengikuti kisah Bryan sebagai cerita horor yang berdiri sendiri. Kehadiran Zach Cherry, Kali Reis, dan Paul Walter Hauser juga memberikan warna berbeda dalam cerita.

Mereka tidak sekadar menjadi karakter pendamping, tetapi ikut memperluas misteri mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik kekacauan Raccoon City. Paul Walter Hauser, khususnya, memberikan energi yang cukup berbeda dari suasana serius yang biasanya melekat pada film horor. Film ini memang memiliki humor di beberapa bagian. Humor tersebut tidak selalu menghilangkan ketegangan, tetapi justru menjadi jeda yang membuat adegan berikutnya terasa lebih intens.

Perpaduan horor dan humor semacam ini merupakan salah satu ciri pendekatan Cregger yang membuat filmnya tidak terasa seperti film zombie konvensional. Sejumlah ulasan juga menilai bahwa humor menjadi salah satu elemen yang membuat versi baru Resident Evil terasa lebih segar.

Meski demikian, film ini bukan tanpa kekurangan. Penonton yang mengharapkan kehadiran karakter-karakter utama dari gim mungkin akan merasa sedikit kecewa karena Bryan merupakan karakter baru. Bagi sebagian penggemar, keputusan tersebut bisa dianggap terlalu jauh dari materi sumber. Selain itu, cerita yang bergerak cepat membuat beberapa bagian terasa seperti hanya diperkenalkan untuk kemudian segera ditinggalkan.

Durasi sekitar 94 menit memang membuat film terasa padat dan tidak bertele-tele, tetapi pada saat yang sama ada beberapa karakter dan situasi yang sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh. Beberapa penonton juga menilai bagian akhir terasa cukup mendadak dan meninggalkan kesan seperti membuka kemungkinan untuk cerita lanjutan.

Kekurangan tersebut tidak sampai menghilangkan daya tarik utama film. Justru keputusan untuk tidak terlalu bergantung pada cerita lama membuat Resident Evil (2026) terasa seperti awal baru bagi waralaba tersebut. Film ini tidak berusaha menjadi versi lain dari film-film sebelumnya yang lebih mengutamakan aksi. Cregger memilih mengembalikan perhatian kepada rasa takut, ketidakberdayaan, atmosfer, dan perjalanan seorang karakter yang berusaha keluar hidup-hidup dari situasi yang semakin buruk.

Pendekatan tersebut terasa tepat karena kekuatan utama Resident Evil sejak awal memang bukan sekadar pada jumlah monster yang ditampilkan, melainkan pada perasaan tidak aman ketika pemain atau penonton tidak pernah tahu apa yang menunggu di balik pintu berikutnya. Secara keseluruhan, Resident Evil (2026) merupakan sebuah reboot yang berhasil memberikan identitas baru tanpa sepenuhnya meninggalkan akar waralabanya.

Film ini memiliki cerita yang cukup sederhana, tetapi dikemas dengan atmosfer kuat, karakter utama yang manusiawi, humor yang ditempatkan secara efektif, serta horor dan kekerasan yang sesuai dengan dunia Resident Evil. Austin Abrams juga menjadi pilihan yang tepat untuk memerankan Bryan karena ia mampu membuat karakter tersebut terasa rentan dan mudah dipercaya.

Sementara itu, Zach Cregger menunjukkan bahwa adaptasi gim tidak harus selalu mengikuti karakter dan alur cerita aslinya secara harfiah untuk tetap terasa setia terhadap sumbernya. Kesetiaan film ini justru terlihat dari suasana survival horror yang dibangun. Bagi penggemar Resident Evil, film ini layak ditonton karena menghadirkan berbagai elemen yang familiar sekaligus menawarkan sesuatu yang berbeda.

Bagi penonton yang belum pernah memainkan gimnya, film ini juga masih cukup mudah dinikmati sebagai film horor tentang seseorang yang berusaha bertahan hidup di tengah wabah biologis dan kemunculan makhluk mengerikan. Dengan perpaduan horor, aksi, humor, dan atmosfer survival yang kuat, Resident Evil (2026) menjadi salah satu adaptasi yang menunjukkan bahwa waralaba gim tersebut masih memiliki peluang besar untuk berkembang di layar lebar.

Film ini memang belum sempurna, tetapi keberaniannya mengambil jalan baru menjadi nilai penting. Pada akhirnya, Resident Evil bukan hanya tentang zombie dan monster, melainkan tentang bagaimana manusia biasa bereaksi ketika dunia yang mereka kenal tiba-tiba berubah menjadi tempat yang penuh ancaman.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat film layar kaca dan layar lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”