Di mata anak kita
Suguhkan lukisan hijau alam yang jauh
dari kering gersang
Memupuk beranda rumah
Agar subur dan jauh dari hama perkara
Di bibir anak kita
Tanamkan kalimat-kalimat tegas yang
jujur tanpa tipu daya
Tuturnya adalah rindang
Peneduh diri dari terik matahari
siang dan lalu lalang orang
Di bahu anak kita
Sandarkan benih terkuat yang mampu
mengangkat tumpukan duka
Rangkulannya hangat kokoh
Merengkuh daun-daun yang mulai layu
karena angin terlalu kencang
Di kaki anak kita
Pakaikan sepasang pengejut agar
langkahnya tak pernah bimbang
Tujuan di depannya
Membisik untuk tetap bergerak sesuai
dengan pikiran dan perasaan
(Desember 2017)
Menemukanmu
Aku menemukanmu dalam kotak hitam
berisi rindu,
yang berserakan memapah lantunan bait
merdu,
yang setiap waktu kudengar dari balik
sepoi penafsir sesak paru,
yang langkahnya samar dalam memburu,
yang bisiknya membuang bising hari
layu.
(2016)
Sesuatu
di Dalammu
Bahumulah yang membuatku damai,
seperti dahan yang menjamu burung-burung dengan teduh naungan. Aku tak mampu
menemukan alasan untuk berhenti mendengar rimbunnya kalimat penenang.
Telingamulah yang membuatku lahir
sebagai manusia, seperti perekam suara yang memuat rekaman ucapan tanpa lebih
dan kurang. Menyimpan ucapan-ucapan itu di dalam ruang berupa ingatan. Sesekali
kauputar ulang untuk menyeretku saat terlalu jauh keluar dari lintasan
kewajaran.
Ketidakhadiran kabarmulah yang
membuatku lumpuh, seperti dingin angin malam yang tak lekas berhenti meremukkan
tulang-belulang. Aku tak menemukan sebab untuk berhenti berharap menemukanmu di
antara detik-detik terang hingga siang memanggang.
(Juni 2017)
Di
Ujung Kantuk
Di ujung kantukmu,
aku menyisipkan bungkusan berisi
perasaan yang kurajut dari kenangan.
Kau akan memeluknya hingga ke dunia
jauh yang selalu menggodamu untuk berlama-lama.
Saat pagi tiba, bungkusan itulah yang
akan membisiki telingamu untuk lekas pergi dari situ.
Sebab aku sudah menunggu di balik
pintu untuk membawamu menuju hal-hal tak terduga.
(2019)
Benang_Benang
Terbang
Sepanjang napas malam,
aku melihat benang-benang pikiran
terbang ke atas.
Semakin tinggi, semakin rumit jalinan
yang mereka buat.
Hingga dini hari mereka masih pusing
memikirkan cara
untuk melerai pergolakan dengan diri
sendiri
(2019)
Masa
Lalu
Masa lalu adalah genangan lumpur yang
selalu menenggelamkan ketika kakiku berpijak di atasnya. Aku tak bisa selamat
dari cekikan lengan-lengan kenangan yang menjalari sekujur tubuh.
Masa lalu adalah gempa yang
merubuhkan perasaan dan keyakinan ketika pikiran terpaut pada hari berikutnya.
Tak ada yang mampu menebak kapan lolongan panjangnya berakhir. Sebab ia akan
terus mengejar bagai roh-roh gentayangan, yang lupa jalan kembali menuju tempat
peristirahatan.
(2019)
Yang
Tak Terlihat
Aku melihat jejak-jejak langkah yang
menahan napas, seperti merpati yang tersedak karena tanpa sengaja menghirup
kata-kata yang berterbangan di udara
Aku mendengar kerikil-kerikil
berbisik dengan mata terpejam, mereka merapal kalimat panjang yang tak
kumengerti artinya, tapi tetes hujan tahu ia sedang menahan diri agar tidak
marah
Aku merasa di balik kulitku ada
sesuatu yang mengalir selain darah, ia bersikukuh tidak mau keluar dari jalan
panjang yang membentang di seluruh tubuhku. Ia terus berjalan sambil membawa
segenggam benih dan menyebarnya di sepanjang jalan yang ia lalui. Dan saat
benih-benih itu tumbuh, aku tidak bisa lepas dari rimbun. (Februari 2019)
Perih
yang Lapang
Matanya biru laut yang menggelarkan
kursi panjang untuk duduk sebentar
Tak ada kedip yang tiba-tiba
Semua wajar hingga membuatmu lupa
berapa lama waktu yang kauhabiskan
Senyumnya hangat selimut tempat
kausembunyi dari gigil akibat udara dingin lepas subuh
Tak ada padam yang mengejutkan
Semua bertempo datar dan kau amat
tenang dibuatnya
Memang,
Sudah ia siapkan semua matang-matang,
dan sesuatu yang perih itu hanya ia
simpan sendirian
(2019)
Melipat
Kemungkinan
Sementara kau berjalan-jalan,
aku melipat kemungkinan dan kusimpan
di saku kanan.
Nanti sesampainya di rumah akan
kukumpulkan bersama lipatan-lipatan lain,
untuk melengkapi kerangka penghubung
kita berdua,
yang kususun
sendirian.
(2019)
Mata dalam
Dadamu
Di
sela-sela terik matahari pukul dua belas,
aku
melihat wajahmu yang merengut sebab aku gagal merapal kata mesra.
Kauputar
pandangan untuk membelakangiku,
tapi
aku tahu mata dalam dadamu tak akan pernah sanggup melakukan itu.
(2019)

Olen
Saddha, tinggal
dan berkegiatan di Surakarta. Saat ini tengah bernaung di Komunitas Kamar Kata
Karanganyar untuk memperkuat kemampuan menulis, guyon, dan rasan-rasan. Selain menulis ia adalah founder Inisiasi 66, kolektif
lintas disiplin. Ia juga vokalis di grup musik Suarasa. Karya-karyanya pernah
terbit di Jurnal Perempuan, Buletin Sastra Pawon, beberapa antologi-antologi
bersama, dan surat kabar. Buku puisinya berjudul Memandikan Harapan diterbitkan oleh Kekata Publisher tahun 2017. Ia dapat dihubungi melalui akun instagram : @olensaddha, fb
: Olen Saddha, Email : [email protected]


0 Komentar