Layang-layang
Pada suatu siang
Di hari libur
Kuterbangkan layang-layangku
Angin membawanya jauh
Tinggi ke angkasa
Sehingga ia menjadi selebar telapak tanganku
Angin siang bertiup kencang
Layang-layangku terombang-ambing
Meliuk ke kanan dan ke kiri
Lalu ia melayang ke suatu tempat
Turun di sana
Di antara rimbun semak-semak
Kukejar layang-layangku
Tapi seorang anak laki-laki
telah memeluknya
Dia berkata “ini milikku.”
Aku membalas, “tapi itu layang-layangku yang putus”
“Siapa yang dapat, dia yang punya.” Dia menjawab
Lalu anak laki-laki itu pergi
Berlari dan bersorak
Aku ingat pesan ibu,
“Jangan mengambil yang bukan milikmu,
meskipun hanya sebuah koin yang tercecer di jalan”
Tapi anak laki-laki itu bukan anak ibuku
Dia tidak tahu tentang pesan itu
____________________
Waktu yang Tidak Terasa
suara tawa kita di kelas hari ini
bukan sekadar tawa
ia akan menjadi kenangan
yang sulit kita lupakan
sejak kelas satu
sampai kelas enam
kita gembira dalam tawa
dan permainan yang semarak
hari kelulusan akan tiba
apakah kita pernah bertanya dalam hati
bisakah kita berkumpul lagi dalam
tawa dan permainan bersama?
____________________
Aku Juga Ingin
di siang yang terik
saat pulang sekolah
aku melihat teman-teman
bermain sepak bola
aku ingin singgah
bermain bersama mereka
tapi aku takut
ibu akan khawatir
menunggu di rumah
sedih di depan pintu
aku bertanya-tanya
mengapa ibu selalu khawatir?
mengapa aku tidak boleh main
di sembarang tempat?
tidak boleh main jauh dari rumah?
Barangkali karena aku masih anak-anak
____________________
Athallah El Fasya. Tinggal di Sungguminasa, Kab Gowa. Siswa SD Negeri 7 Batangkaluku.

0 Komentar