Peluit panjang berbunyi pertanda pertandingan berakhir, selamanya. Pintu telah tertutup rapat, layaknya sebuah lorong, kau hempaskan aku di ruang gelap, berdebu dan sesak menggerogotiku. Amarah bercampur tanya meluap padaku. Kenapa kau bungkam aku di sini?
Kala itu, beberapa nama terpanggil, Safi, Juned, dan satu lagi tak begitu kau kenal. Tapi tidak denganmu.
Kau bernapas panjang. “Masih belum rezeki,” gumammu menghibur diri.
Sebelum kita bertemu, kau masih ingusan dan bandel. Tak mau pulang sebelum azan magrib berkumandang, emakmu sudah gregetan, atau paling tidak jari kakimu berdarah tersandung. Menurutmu dua tiga hari sudah dirasa sembuh meski belum terlalu kering. Emakmu greget, “Rasakan!” dan itu tetap tak membuatmu berhenti.
Kau pernah bicara pada diri sendiri tentang cita-cita yang ingin kau gapai. Sekitar kelas 3 SD sudah mantap kau sebutkan itu, ketimbang teman-temanmu yang bercita-cita ingin menjadi dokter, guru atau pejabat.
Ah….! Seru sekali melihat kau sewaktu masih kecil. Setelah pagi hingga siangmu kau habiskan di bangku penat, bersama temanmu merancang rencana untuk mengisi waktu sebelum asar menyongsong. Mulai dari bermain ke sawah untuk menebang beberapa buah tebu, berenang di sungai sewaktu musim hujan, atau paling tidak hanya sekadar adu kelereng di halaman. Rasanya anak-anak seusiamu sekarang tak pernah tahu asyiknya kala itu. Apalagi setiap Minggu, kau kumpulkan teman-temanmu selayaknya kapten lalu kau cari musuh dari desa lain. Kalah menang tak dihiraukan, asalkan berani.
Saat ini aku terbujur kaku di sini, dengan tubuh yang tak lagi utuh. Sebagian dariku mengelupas, bahkan tubuh ini mulai rapuh tak mampu menahan benturan.
Andai kau tahu, rasa sakit bukan sewaktu kau tinggalkan aku, tapi rasa sakit itu ketika kau menempatkanku di tempat yang tak layak. Harusnya aku menyusur rumput dan lumpur lapangan itu.
Apakah kau masih ingat, untuk pertama kalinya bapakmu membelikanku untukmu? Asal kau tahu, keringat bapakmu mengendap di tubuhku! Demi mimpi dari anak semata wayangnya, berbagai pekerjaan dilakukannya. Kadang dia menyisihkan jika dibayar dengan uang, tapi lebih sering dibayar dengan hasil panen. Rasanya bapakmu sudah tak sanggup. Beberapa bulan kemudian dia pamit dengan berbekal dari uang penjualan beberapa kambing.
Bukankah dulu kau sempat bermimpi ingin menjadi orang bernomor tujuh itu? Kau begitu menggilainya, sampai kau perjuangkan masa remajamu agar suatu saat mimpi itu menjadi nyata. Sewaktu SMP, kau coba masuk ke SSB dan tak semua remaja di desamu mengikutinya. Setiap jadwal tak pernah kau tinggalkan, bahkan arahan dari pelatih selalu kau tunaikan.
Aku rindu dengan suara dentuman antara kaki saling beradu itu, aku rindu gemuruh lapangan, aku rindu riuhnya suara “Goool!”
Kala orang-orang saling berhadapan di sana, aku tak pernah gentar. Kau pernah berkata padaku sambil mengelus punggungku, “Semoga, ya!”
Geliatmu tak pernah mengecewakan bagiku saat kau menghadang mereka. Satu per satu kau habisi, meski kadang satu-dua terlewatkan. Kau pacu aku lebih kencang, kau buat aku semakin percaya diri demi suara teriakan penuh kegirangan. Kita hampir mengangkat piala, andai saja pertandingan itu bersih–yang menurut kebanyakan orang, wasit Indonesia mudah disogok.
Kau pengecut!
Kau buang aku, kau tinggalkan di antara tumpukan kardus bercampur bau busuk menyengat kencing tikus. Kau kubur aku serta mimpimu di sini. Sewaktu kita berdebat hebat, aku ingin meludahimu saat kau berujar “Percuma hidup di sini dengan hobi.” Namamu tetap tak muncul, anak lurah itu lebih berpotensi kata pelatihmu. Kilatan suara itu menyambar segala harapan dan impianmu.
Ibarat bara api di tumpukan jerami terlihat sudah mati lalu tertiup angin menjadi api besar siap menyambar. Operasi besar-besaran terhadap imigran digencarkan, Bapakmu yang bekerja di sana harus lari tunggang-langgang untuk kabur. Tentunya pulang dengan selamat rasanya sudah sangat bersyukur. Krisis ekonomi itu melanda keluargamu, dan keluarga yang lain tepat sekitar pertengahan tahun 97. Keadaan semakin memburuk, orang-orang sepertimu semakin terpuruk. Seperti kerasukan setan, atau lebih baik jadi setannya sekalian. Selang setahun kemudian, kau putuskan untuk bergabung bersama pemuda seusiamu. Suara kutukan, bau asap dari ban yang dibakar, pukulan tongkat melayang tak ada ampun.
“Maaf!” Katamu dan kata pria berbadan tegap rambut ramping pada bapakmu.
Priiitt!!!
Peluit itu berbunyi hingga benar-benar berakhir selamanya.***
____________________
Adhi Karunia. Tinggal di Ponorogo. Memiliki keinginan untuk tetap menulis.

0 Komentar